Rabu 06 Dec 2023 12:00 WIB

Melonjaknya Harga Bitcoin tak Hanya Akibat Optimisme ETF

Exchange netinflow dan berakhirnya kenaikan suku bunga Fed mengerek harga BTC.

ATM Bitcoin di Hong Kong.
Foto: AP Photo/Kin Cheung
ATM Bitcoin di Hong Kong.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar kripto kembali menghijau dengan naiknya harga Bitcoin hingga 42.400 dolar AS atau sekitar Rp 657 juta. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak April 2022.

Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, mengatakan kenaikan ini didorong oleh sejumlah katalis selain optimisme terhadap persetujuan The US Securities and Exchange Commission (SEC) untuk permohonan Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin, yang diagendakan pada Januari 2024 mendatang.

Baca Juga

"Faktor lain di balik kenaikan harga Bitcoin adalah rendahnya tekanan jual dari investor yang diukur berdasarkan data exchange netflow Bitcoin. Semakin rendah exchange netflow berarti semakin rendah pula kemungkinan investor untuk menjual aset," kata Fahmi melalui keterangan tulis, Selasa (5/12/2023).

Melansir IntoTheBlock, exchange netflow Bitcoin pada tanggal 2 Desember lalu negatif -3,32 ribu Bitcoin, kemudian masih negatif pada 3 Desember yakni -1,11 ribu Bitcoin. Artinya, Fahmi melanjutkan, lebih banyak Bitcoin yang investor pindahkan dari exchange ke dompet pribadi, daripada yang dipindahkan dari dompet pribadi ke exchange.

 

"Hal ini menandakan investor lebih memilih untuk menyimpan atau hold Bitcoin yang dimiliki daripada menjualnya, meskipun harga sudah naik ke area 39.500 dolar AS pada waktu itu," tambah Fahmi.

Selain itu, kata Fahmi, sentimen pendorong lainnya yakni peran investor institusional yang terus mengakuisisi Bitcoin terlepas dari kenaikan harga yang terjadi. Microstrategy sebagai salah satu perusahaan terkemuka di dunia analytics, kembali membeli Bitcoin sekitar 16.130 koin atau setara 593,3 juta dolar AS secara tunai, selama periode 1 November dan 29 November tahun ini.

Pembelian tersebut merupakan yang terbesar setelah pembelian yang dilakukan pada Februari 2021 lalu dan membuat Microstrategy dan anak perusahaannya saat ini memiliki total 174,530 Bitcoin. Padahal, seperti yang kita tahu, harga Bitcoin di November sudah naik dan berada pada area di atas 34 ribu dolar AS dibandingkan pada Oktober yang masih di kisaran 26 ribu dolar AS.

Peran aktif investor institusional dalam pasar kripto ini, lanjut Fahmi, turut mendorong peningkatan harga Bitcoin. "Adopsi investor institusional berperan penting dalam performa harga Bitcoin," kata dia.

Keputusan institusi untuk membeli Bitcoin menjadi indikasi meningkatnya kepercayaan mereka terhadap aset kripto yang dapat meningkatkan legitimasi aset kripto serta turut meningkatkan kepercayaan diri investor ritel secara umum. Selain itu, masuknya investor institusional juga mendorong capital inflow yang besar ke dalam pasar kripto yang juga dapat mempengaruhi harga.

Kemudian sentimen selanjutnya yang mendongkrak harga Bitcoin adalah kepercayaan investor terhadap akan dihentikannya siklus kenaikan suku bunga The Fed dan dimulainya siklus penurunan suku bunga yang mungkin akan terjadi pada kuartal pertama 2024 nanti. Sentimen tersebut cukup berkembang menjelang pertemuan penentuan kebijakan suku bunga The Fed pekan depan.

Optimisme investor terhadap berhentinya siklus kenaikan suku bunga selain didorong oleh keputusan The Fed untuk mempertahankan tingkat bunga yang ada pada pertemuan sebelumnya juga didorong oleh perkembangan data ekonomi yang menunjukkan tantangan pertumbuhan ke depan. Termasuk mulai melemahnya sektor tenaga kerja, dan mulai menurunnya tingkat inflasi. Investor mulai bersiap menghadapi siklus baru penurunan suku bunga tersebut dengan mulai mengambil posisi di aset kripto.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement