REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Industri aset digital dan kripto meningkatkan literasi guna menekan risiko perilaku ikut-ikutan atau fear of missing out (FOMO) di kalangan investor ritel. Edukasi dinilai krusial agar masyarakat memahami karakter dan volatilitas instrumen kripto sebelum bertransaksi.
Salah satu pelaku yang aktif menggarap edukasi adalah Indodax. Dengan lebih dari 9,8 juta anggota, perusahaan ini menjalankan program literasi sejak 2014 melalui kanal pembelajaran yang membahas blockchain, bitcoin, mining, hingga berbagai aset kripto lain, sekaligus menekankan pentingnya pendekatan do your own research (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
CEO Indodax William Sutanto menyampaikan, literasi menjadi fondasi agar investor memahami risiko dan karakter produk kripto yang volatil. “Lewat Indodax Academy dan berbagai program pengembangan talenta, kami ingin membantu masyarakat memahami kripto dan teknologi blockchain secara lebih utuh, termasuk risiko yang ada, sehingga keputusan yang diambil bisa lebih matang dan bertanggung jawab,” ucap William dalam keterangan tertulis, Jumat (13/2/2026).
Selain edukasi publik, perusahaan juga menjalankan program literasi Web3 Developer yang berfokus pada pelatihan dan mentoring bagi pengembang lokal. Program ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas teknis talenta dalam mendukung ekosistem Web3 dan blockchain di dalam negeri.
Upaya tersebut turut mengantarkan perusahaan menjadi salah satu dari 26 penerima penghargaan Fortune Indonesia Change the World 2025. William menilai pengembangan sumber daya manusia penting agar pertumbuhan industri kripto tidak hanya bertumpu pada lonjakan jumlah pengguna, tetapi juga kualitas pemahaman terhadap teknologi.
“Kami percaya pertumbuhan industri ini tidak hanya ditopang oleh jumlah pengguna, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang memahami teknologinya secara mendalam,” tambah William.
Pelaku industri menilai kombinasi edukasi publik dan penguatan talenta menjadi salah satu prasyarat menjaga keberlanjutan pasar kripto di tengah fluktuasi harga dan tingginya minat investor ritel.