Selasa 28 Nov 2023 07:35 WIB

Likuiditas Ketat, BNI Jaga Pertumbuhan DPK

BNI membangun buffer likuiditas dalam mengantisipasi kondisi makro ekonomi.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI .
Foto: dok BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI .

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus berupaya menjaga pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di tengah likuiditas yang mengetat. Per September, DPK Perseroan tumbuh 9,1 persen yoy, jauh di atas rata-rata industri perbankan.

BNI juga mencatat rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) yang sehat di level 91 persen. "BNI membangun buffer likuiditas yang sehat terutama dalam mengantisipasi kondisi makro ekonomi," kata Direktur Human Capital & Compliance BNI, Mucharom, saat Pubex Live 2023, Senin (27/11/2023).

Baca Juga

Menurut Mucharom, BNI juga memiliki kapabilitas digital yang kompetitif untuk mendorong pertumbuhan current account saving accout (CASA) yaitu giro dan tabungan berbasis transaksi yang kuat. Saat ini lebih dari 80 persen total CASA dikontribusi oleh pengguna mobile banking dan BNI Direct. 

Mucharom mengatakan, BNI memiliki beberapa strategi untuk menjaga pertumbuhan DPK tetap sehat. BNI akan terus memantau rasio CASA terhadap kredit yang nilainya terus membaik dari hanya 70 persen sebelum transformasi menjadi 80 persen.

"Artinya semakin banyak kredit yang didanai dengah dana murah sehingga mengurangi ketergantungan kami pada dana mahal," jelas Mucharom. 

BNI juga meningkatkan penetrasi ke nasabah melalui strategi cross selling. Perseroan turut meningkatkan volume transaksi ke segmen enterprise, komersial maupun nasabah kaya (wealth client).

"Kamk meyakini likuiditas industri perbankan akan membaik seiring peningkatan belanja pemerintah sampai akhir tahun," ujar Mucharom.

Hingga September 2023, komposisi DPK yang dihimpun BNI didominasi oleh CASA atau Giro dan tabungan sebesar 69 persen. Di tengah trend peningkatan suku bunga saat ini, biaya dana pihak ketiga BNI tercatat di kisaran dua persen, masih lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi yang di atas tiga persen. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement