REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah kredit menganggur atau undisbursed loan di perbankan mencapai Rp 2.506 triliun per Januari 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp 2.439 triliun.
Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Januari 2026 masing-masing tumbuh sebesar 22,38 persen (yoy), 4,13 persen (yoy), dan 6,58 persen (yoy).
Perry menyampaikan, capaian tersebut sejalan dengan upaya BI menurunkan suku bunga, memperkuat kebijakan insentif likuiditas, serta mendukung realisasi program prioritas Pemerintah.
Prospek peningkatan pertumbuhan kredit ke depan, lanjut Perry, masih cukup kuat dipengaruhi sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat terus ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih cukup besar jumlahnya agar aktivitas usaha semakin menggeliat dan berkontribusi lebih luas terhadap perekonomian.
Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai, ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,54 persen dan DPK yang tumbuh tinggi sebesar 13,48 persen (yoy) pada Januari 2026.
Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan terus membaik, tecermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar. “Kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” terangnya.
BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8—12 persen. Bank Sentral memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan tersebut.