Ahad 26 Nov 2023 13:00 WIB

Ketika Produk Lokal Mesir Laris Manis Imbas Boikot Produk Pro Israel

Spathis melakukan rekrutmen lebih dari 15 ribu pelamar untuk memenuhi permintaan.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Lida Puspaningtyas
Caleg PDIP Maidestal Hari Mahesa menggelar demo boikot produk terafiliasi Israel di depan outlet Starbucks, Pizza Hut, dan McDonald
Foto: Republika.co.id/Febrian Fachri
Caleg PDIP Maidestal Hari Mahesa menggelar demo boikot produk terafiliasi Israel di depan outlet Starbucks, Pizza Hut, dan McDonald

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi boikot terhadap produk makanan minuman yang mendukung Israel terus bergulir. Gerakan massal yang sebelumnya diremehkan tak akan bertahan lama terus menunjukkan perkembangan cukup signifikan.

Selain saham-saham emiten produk pro Israel yang menurun, toko-toko retailnya semakin sepi, hingga usaha kecil menengah masyarakat yang juga memberhentikan produksi dengan menggunakan produk pro-Israel. Kini muncul juga fenomena pergeseran permintaan produk pada substitusi yang berasal dari lokal.

Baca Juga

Seperti Spiro Spathis, perusahaan minuman berkarbonasi tertua di Mesir, yang kembali mengalami kebangkitan yang sensasional. Didirikan pada 1920 oleh seorang peternak lebah Yunani dari Kefalonia yang menyandang namanya, Spathis telah menjadi bagian dari kehidupan generasi Mesir.

Kini, berkat kampanye nasional untuk memboikot produsen-produsen Barat yang mendukung Israel, merek berusia satu abad ini menyebabkan kehebohan sebagai contoh solidaritas Mesir terhadap Palestina.

Spiro Spathis, yang selalu bangga dengan perannya sebagai merek minuman ringan pertama di Mesir, meluncurkan slogan-slogan seperti 100 persen buatan Mesir” dan gazouza asli Mesir menggunakan istilah Mesir yang diperkirakan berasal dari bahasa Prancis yakni gazeuse atau berkarbonasi dan banyak digunakan untuk menyebut minuman bersoda.

"Saya sudah menjual minuman mereka selama empat tahun. Selalu ada beberapa konsumen yang lebih menyukai Spiro dibandingkan minuman lain, tapi tidak banyak,” kata Mohammed,

Pemilik toko kelontong di Provinsi Sharqia, Mohammed, yang sudah menjual Spathis dalam empat tahun terakhir mengaku terdapat permintaan besar.

"Sekarang, botol-botol mereka langsung habis. Kalau sebelum boikot, saya jual empat, mungkin lima kotak Spathis dalam seminggu, sekarang saya bisa jual sebanyak 50 kotak dalam sehari kalau stok sebanyak itu,” ucap Mihammed seperti dilansir dari Al Jazeera pada Ahad (26/11/2023).

Kepala pemasaran yang juga salah satu dari tiga bersaudara pemilik Spathis, Morcus Talaat, mengatakan permintaan naik tiga kali lipat dalam sebulan terakhir menyusul aksi boikot produk pro Israel.

Talaat mengatakan Spathis juga telah menerima ratusan panggilan dari klien baru dan penawaran dari berbagai restoran. Talaat menyampaikan Spathis melakukan rekrutmen lebih dari 15 ribu pelamar untuk memenuhi permintaan.

Di lingkungan Kota Nasr, Kairo, seorang pemilik kios mengatakan tidak mampu menyediakan cukup Spathis untuk memenuhi permintaan.

"Saya hanya menerima empat pengiriman dalam sebulan terakhir, dan terjual habis di hari yang sama," ucap pedagang tersebut.

Pengeboman dan invasi darat Israel yang tiada henti di Gaza, yang dimulai pada 7 Oktober dan sejauh ini telah menewaskan lebih dari 11.500 warga Palestina, telah memicu protes massal di seluruh dunia. Hal ini juga menyebabkan banyak orang memboikot merek internasional seperti McDonald's dan Starbucks.

Di Indonesia, konsumen mulai memboikot McDonald's dan bisnis lainnya pada pertengahan Oktober setelah McDonald's Israel mengumumkan di media sosial mereka telah membagikan ribuan makanan gratis kepada militer Israel selama perang di Gaza.

Pengumuman tersebut mendorong beberapa organisasi, termasuk Gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), Front Persatuan Rakyat (FUB) dan Front Pembela Islam (FPI), menyerukan boikot terhadap McDonald's dan bisnis lain yang dianggap pro-Israel, termasuk Burger King.

Ketika pengunjuk rasa membanjiri jalan-jalan kota-kota besar di seluruh dunia, mulai dari Washington, DC, hingga London dan Cape Town, cabang-cabang restoran waralaba, kedai kopi, dan toko pro Israel yang dulunya ramai di dunia Arab kini sebagian besar kosong.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement