Sabtu 25 Nov 2023 23:09 WIB

Kawasan Industri Fakfak Mulai Dibangun, Ini Dampaknya untuk Indonesia Timur

Proyek ini menjadi kawasan industri pupuk baru yang dibangun setelah empat dasawarsa.

Presiden Joko Widodo (kiri) saat peresmian peletakan batu pertama pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri Pupuk, di Fakfak, Papua Barat, Kamis (23/11/2023).
Foto: Dok Republika
Presiden Joko Widodo (kiri) saat peresmian peletakan batu pertama pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri Pupuk, di Fakfak, Papua Barat, Kamis (23/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, PT Pupuk Kalimantan Timur, meyakini kawasan industri pupuk di Fakfak, Papua Barat, akan mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur. Peletakan batu pertama pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri Pupuk di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, telah dilakukan oleh Presiden Jokowi, Kamis (23/11) lalu.

“Keberadaan kawasan industri pupuk ini akan memiliki dampak terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur. Kawasan industri pupuk ini nantinya juga dapat memberikan kontribusi positif dengan mendorong tumbuhnya bisnis pendukung kawasan sekitar sebesar Rp 650 miliar per tahun,” kata Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi di Jakarta, Sabtu (25/11/2023).

Baca Juga

Rahmad menjelaskan kawasan industri pupuk itu juga akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia Timur, pemerintah, dan negara. Selain mendukung iklim investasi, proyek ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 10.000 orang selama masa konstruksi dan 400 orang saat beroperasi.

Adapun potensi kontribusi pertumbuhan ekonomi domestik melalui penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di proyek mencapai sekitar Rp 10 triliun. Sementara kontribusi bagi pendapatan daerah diperkirakan mencapai Rp 15 miliar per tahun.

 

Pembangunan kawasan industri pupuk itu sendiri merupakan yang pertama di Indonesia dalam 40 tahun terakhir. Pembangunan kawasan industri pupuk pertama di Indonesia dimulai di Palembang pada tahun 1959, kemudian di Gresik (1972), Cikampek (1975), dan Bontang (1977). Sementara, Indonesia terakhir kali membangun industri pupuk pada tahun 1982 di Aceh. Artinya proyek ini menjadi kawasan industri pupuk baru yang dibangun di dalam negeri setelah empat dasawarsa.

Di kawasan ini, nantinya akan dibangun pabrik dengan kapasitas produksi pupuk Urea sebesar 1.150.000 ton per tahun serta ammonia 825.000 ton per tahun. Pabrik pupuk Urea ini ditargetkan akan mulai berproduksi pada awal tahun 2028, dan akan dijalankan oleh Pupuk Kalimantan Timur yang merupakan salah satu anggota holding dari Pupuk Indonesia.

“Pupuk Indonesia akan terus mendukung pemerintah dalam program ketahanan pangan nasional, salah satunya dengan meningkatkan kapasitas produksi pupuk melalui Proyek Kawasan Industri Pupuk di Fakfak. Keberadaannya akan menyuplai kebutuhan pupuk di Indonesia, khususnya untuk sektor pertanian,” kata Rahmad.

Dengan tambahan kapasitas tersebut, lanjut Rahmad, keberadaan kawasan industri pupuk baru di Papua Barat ini akan memperkuat posisi Pupuk Indonesia sebagai perusahaan penyedia pupuk terbesar di Asia Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Adapun pabrik tersebut dibangun melalui pendekatan ESG, yaitu pemanfaatan teknologi baru yang lebih rendah karbon, serta ramah lingkungan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement