Kamis 23 Nov 2023 21:41 WIB

Pupuk Indonesia Bangun Pabrik di Papua, Presiden Harap Bisa Tekan Krisis Pangan

PSN Kawasan Industri Pupuk Fakfak dinilai dapat menopang kebutuhan pupuk di timur.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Lida Puspaningtyas
Program ketahanan pangan kolaborasi PT Pupuk Indonesia dan Kitong Bisa Foundation mulai digulirkan di Papua, Sabtu (28/1/2023)
Foto: Istimewa
Program ketahanan pangan kolaborasi PT Pupuk Indonesia dan Kitong Bisa Foundation mulai digulirkan di Papua, Sabtu (28/1/2023)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, Kamis (23/11/2023). Presiden berharap dengan adanya industri pupuk di kawasan Indonesia Timur bisa meningkatkan produktifitas pangan nasional.

“Sudah 40 tahun kita memiliki lima industri pupuk, semuanya berada di kawasan barat wilayah negara kita Indonesia, yang kawasan timur belum ada sama sekali,” kata Presiden di Fakfak, Kamis (23/11/2023).

Baca Juga

Presiden menilai, pembangunan kawasan industri pupuk tersebut dilakukan di Kabupaten Fakfak dikarenakan dekat dengan sumber suplai gas dan ke depannya dapat mendukung rencana besar pembangunan lumbung pangan di Papua.

“Kalau itu dimulai tidak di-back up oleh industri pupuknya, ini juga akan berat. Oleh sebab itu, ini sudah sebuah rencana besar, saling mendukung, dan kita harapkan tanah Papua semakin makmur dan sejahtera,” jelasnya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan pupuk di wilayah Papua serta menyuplai pupuk untuk lumbung pangan yang telah direncanakan, PSN Kawasan Industri Pupuk Fakfak ini juga dinilai dapat menopang kebutuhan pupuk di wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Maluku Utara.

“Kemudian juga sebagian bisa diekspor karena lebih dekat ke Australia, karena Australia juga impor sebagian dari kita dan sebagian dari negara lain,” sambungnya.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mendorong agar pembangunan konstruksi kawasan tersebut segera dilaksanakan dan dapat diselesaikan pada 2038. “Memang ini proyek yang sangat besar, dengan investasi kurang lebih Rp 30-an triliun,” ucap Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi berharap agar pabrik pupuk tersebut dapat memiliki kapasitas produksi hingga 1,15 juta ton pupuk urea dan 825 ribu ton amonia setiap tahunnya. “Nanti tentu saja akan ada pengembangan lebih besar lagi,” tandasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement