Rabu 22 Nov 2023 18:38 WIB

Kemenperin: Pemerintah tidak Targetkan Penjualan Mobil Listrik

Pemerintah saat ini lebih mengarahkan pada pembiasaan masyarakat.

Pengunjung melihat mobil listrik yang dipajang pada pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Bandung 2023.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Pengunjung melihat mobil listrik yang dipajang pada pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Bandung 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut pemerintah tidak menargetkan jumlah penjualan mobil listrik termasuk pada 2023 ini. Pemerintah saat ini lebih mengarahkan pada pembiasaan masyarakat.

Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin Taufiek Bawazier, jika dilihat dari pertumbuhan sejak dikeluarkan kebijakan bea balik nama (BBN) nol persen bagi kendaraan listrik mulai awal 2023, terdapat kenaikan signifikan.

Baca Juga

"Kami tidak memasang target ya, tapi kita coba pendekatannya ke behaviour masyarakat, kalau lihat pertumbuhan sejak kebijakan BBN itu ada kenaikan sekitar 4.000 sekian," kata Taufiek pada acara pameran GIIAS 2023 di Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/11/2023).

Dari kebiasaan yang ada saat ini, kata Taufiek, masyarakat yang membeli kendaraan listrik bukan menjadikan kendaraan listrik sebagai kendaraan utama tapi kedua dan seterusnya, dengan semangat untuk mencoba dan merasakan kendaraan listrik baik mobil maupun sepeda motor.

 

"Awal kita berharap masyarakat banyak yang beli, tapi realitanya sekarang masyarakat juga mau mencoba. Termasuk ketika sekarang ada aturan satu NIK satu kendaraan listrik (mendapat insentif) itu tumbuhnya luar biasa, bahkan sepeda motor penjualan sampai Oktober 2023 sudah sekitar 12 ribu unit," katanya lagi.

Hingga saat ini, kata Taufiek, untuk mobil listrik yang ikut dalam kebijakan BBN nol persen baru dua merek yakni Hyundai dan Wuling yang memberi efek cukup signifikan pada peningkatan penjualan sampai 126 persen dibanding sebelum adanya insentif.

"Sebenarnya ini kembali pada masyarakat, saya melihat kalau minat beli masyarakat 62 persen di harga Rp 300 juta. Jadi dua merek ini masuk segmen itu dan mendapatkan manfaat dari kebijakan tersebut," katanya pula.

Karenanya, dia berharap merek-merek lainnya muncul dan mengisi pasar tersebut untuk turut menyukseskan peta jalan yang disusun oleh pemerintah terkait ekosistem kendaraan listrik pada tahun 2025.

"Target pemerintah kan dalam road map itu paling tidak 20 persen kendaraan listrik dari seluruh kendaraan pada 2025. Tujuannya jelas mengurangi emisi karbon," ujarnya lagi.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement