Rabu 22 Nov 2023 11:45 WIB

BRI Insurance Edukasi 300 Pedagang Pasar di Kediri

Tingkat literasi jasa keuangan untuk sektor asuransi baru mencapai 31 persen.

Kegiatan edukasi literasi keuangan kepada 300 pedagang pasar dan industri mikro, kecil, menengah (IMKM) yang ada di Kediri, Jawa Timur, yang diselenggarakan di Aula Gedung E Universitas Islam Kadiri (Uniska), Selasa (21/11/2023).
Foto: Antara
Kegiatan edukasi literasi keuangan kepada 300 pedagang pasar dan industri mikro, kecil, menengah (IMKM) yang ada di Kediri, Jawa Timur, yang diselenggarakan di Aula Gedung E Universitas Islam Kadiri (Uniska), Selasa (21/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT BRI Asuransi Indonesia atau BRI Insurance memberikan edukasi tentang literasi keuangan kepada 300 pedagang pasar dan industri mikro, kecil, menengah (IMKM) di Kediri, Jawa Timur. CEO BRI Insurance, Budi Legowo, mengatakan mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2022, tingkat literasi jasa keuangan untuk sektor asuransi baru mencapai 31 persen dan inklusi keuangan 16 persen.

“Memang tantangan kami untuk  terus melakukan upaya agar masyarakat semakin paham atau sadar bahwa risiko bisa terjadi kapan saja,” kata Budi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/11/2023).

Baca Juga

Budi  mengatakan, Indonesia berada di wilayah ring of fire di Indo-Pasifik yang rentan mengalami bencana alam, sehingga pelaku usaha dalam negeri memiliki urgensi yang tinggi untuk melindungi bisnis mereka.

Budi menyebut jumlah UMKM yang telah memegang polis asuransi sudah mencapai 10 juta peserta pada tahun ini. Dengan penyebaran informasi dan akses yang masif, diharapkan jumlahnya bisa meningkat menjadi 13 juta hingga 14 juta pelaku usaha yang melindungi bisnisnya dengan asuransi.

 

Sementara itu, Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri Bambang Supriyanto menyoroti tingkat literasi keuangan masyarakat yang lebih tinggi dibandingkan tingkat inklusi. Artinya, pengguna asuransi masih jauh lebih sedikit dibandingkan tingkat pemahaman masyarakat tentang literasi asuransi.

“Ini berbanding terbalik dengan secara umum bahwa tingkat inklusi keuangan lebih tinggi, namun literasinya masih rendah,” ujar Bambang.

Kondisi tersebut mendorong pentingnya pemberian edukasi mengenai literasi keuangan agar masyarakat dapat lebih percaya untuk menggunakan produk jasa keuangan, terutama bila mempertimbangkan banyaknya kejahatan di industri keuangan, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal serta investasi bodong.

“Masyarakat masih harus diedukasi tentang literasi keuangan agar tidak terus dirugikan dalam kaitannya dengan penggunaan produk jasa keuangan,” tutur dia.

Kegiatan edukasi tersebut mengangkat tema Peran dan Fungsi Asuransi untuk Keamanan Bisnis dan Kesejahteraan Pedagang Pasar dan UMKM. Kegiatan dilakukan di Aula Gedung E Universitas Islam Kadiri (Uniska) pada Selasa (21/11).

 

sumber : antara
Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement