Rabu 08 Nov 2023 15:16 WIB

Kementan Kerahkan Sawah Setengah Juta Hektare untuk Tambal Penurunan Produksi Beras

Amran optimistis hasil panen akan optimal seiring masuknya musim hujan.

Petani memanen padi menggunakan mesin pertanian, (ilustrasi).
Foto: Antara/Muhammad Mada
Petani memanen padi menggunakan mesin pertanian, (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan telah mengerahkan perluasan lahan tanam seluas 569.374 hektare di 10 provinsi dalam Gerakan Nasional El Nino sebagai antisipasi penurunan produksi beras nasional. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan, saat ini realisasi penanaman di lahan tambahan tersebut telah mencapai 430.235 hektare atau 75,6 persen dari yang ditargetkan Kementan.  

Baca Juga

“Gernas El Nino diharapkan mampu mengkompensasi penurunan produksi tiga juta ton gabah kering giling (GKG) atau (setara) 1,5 juta ton beras sebagai dampak El Nino,” kata Amran dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR, Rabu (8/11/2023). 

Lebih detail, Amran menjelaskan, dari 10 provinsi yang dijangkau ada enam provinsi utama yang menjadi penyangga dalam mencegah penurunan produksi. Yakni Sumatera Selatan seluas 103.672 hektare, Sulawesi Selatan 80.619 hektare, Jawa barat 67.239 hektare, Jawa Timur 61.132 hektare, Sumatera Utara 57.977 hektare, serta Jawa Tengah 50.017 hektare. 

Adapun empat provinsi lainnya merupakan provinsi pendukung. Yakni Kalimantan Selatan 62.880 hektare, Banten 36.435 hektare, Lampung 36 ribu hektare, serta NTB 13.403 hektare. 

Amran menjelaskan, Kementan juga melakukan upaya penyediaan pompa air, benih, serta memastikan kelancaran distribusi pupuk di ke 10 wilayah tersebut agar produksi yang diperoleh dapat optimal. 

Di satu sisi, lanjut Amran, nantinya akan dilakukan pendampingan pascapanen sehingga target pemenuhan produksi bisa diperoleh. Setidaknya sebagai kompensasi penurunan produksi beras yang akan terjadi imbas El Nino pada tahun ini.

Dirinya juga memastikan puncak musim panen rendeng pada awal tahun 2024 akan mundur. Hal itu disebabkan oleh terlambatnya musim tanam akhir tahun ini akibat kekeringan ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. 

“Kalau (tanam) mundur satu bulan berarti jatuhnya (panen) April-Mei, dulu kan Maret-April. Mudah-mudahan hujan ini merata,” kata Amran.  

Ia tak menyebut berapa volume produksi gabah dan beras yang akan diperoleh pada musim panen mendatang. Namun, Amran optimistis hasil panen akan optimal seiring masuknya musim hujan dan mengisi irigasi persawahan. 

“Mudah-mudahan. Kita berdoa semua, tapi yang terpenting sudah mulai hujan,” ujarnya menambahkan.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement