Senin 06 Nov 2023 17:30 WIB

Harga Pangan dan Energi Dunia Naik, Sri Mulyani Ungkap Biang Keroknya

Dunia memang sedang dalam dinamika yang luar biasa sangat volatil.

Rep: Novita Intan/ Red: Fuji Pratiwi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan sambutan dalam acara Kreator Indonesia Berkarya: Watch Indonesia Grow di Jakarta, Kamis (26/10/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan sambutan dalam acara Kreator Indonesia Berkarya: Watch Indonesia Grow di Jakarta, Kamis (26/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menyebut risiko dan ketidakpastian global semakin meningkat. Hal ini menyebabkan naiknya harga pangan dan energi dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, saat ini tiga negara dengan perekonomian terbesar seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa dihadapkan situasi yang sulit untuk mengendalikan atau mengelola ekonominya. Kata dia, dunia memang sedang dalam dinamika yang luar biasa sangat volatil.

Baca Juga

Negara-negara besar seperti Amerika, China, dan Eropa itu sedang di dalam situasi untuk mengendalikan atau mengelola ekonominya secara tidak mudah. "Itu dampaknya ke seluruh dunia, karena tiga daerah ini mempengaruhi dunia lebih dari 40 persen," ujar Sri Mulyani saat webinar Penyerahan Insentif Fiskal Dalam Rangka Pengendalian Inflasi Daerah Periode Ketiga TA 2023, Senin (6/11/2023).

Sri Mulyani menyebut tingginya inflasi di Amerika Serikat menyebabkan negara tersebut menaikkan suku bunga secara ekstrem sebesar lima persen dalam jangka waktu 14 bulan. Adapun keadaan ini menyebabkan aliran modal keluar dari seluruh negara. 

"Ini menyebabkan kemudian seluruh dunia mengalami depresiasi dari mata uangnya. Pasti depresiasi itu memengaruhi inflasi, namanya imported inflasi, inflasi yang berasal dari barang barang impor terkena dampak dari policy yang ada di AS," ucap dia.

Dari sisi lain, China sebagai negara penyumbang perekonomian kedua terbesar di dunia turut dalam kecenderungan ekonomi yang melemah. Adapun kondisi ini juga mempengaruhi harga-harga komoditas di tanah air dengan permintaan terhadap komoditas menjadi menurun.

Sementara di Eropa terkena dampak tingginya harga minyak karena perang Ukraina-Rusia. Adanya perang antara Hamas dengan Israel berpotensi juga melebar ke wilayah Timur Tengah.

"Ini adalah gejolak dunia yang harus terus kita waspadai. Karena gejolaknya bertubi-tubi, maka perekonomian dunia juga berpengaruh menjadi lebih lemah karena setiap kali mau pulih sesudah Covid-19 kemudian mengalami gejolak entah itu karena perang, entah karena kemudian harga komoditas," ucapnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement