Jumat 27 Oct 2023 17:08 WIB

Rupiah Melemah karena Sentimen Serangan AS ke Fasilitas Iran

Rupiah ditutup melemah 19 poin atau 0,12 persen menjadi Rp 15.939 per dolar AS.

Petugas memberikan uang pecahan dolar AS kepada pembeli di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp15.300 pada perdagangan Selasa (4/10) siang, dimana sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah mulai melandainya nilai dolar AS.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Petugas memberikan uang pecahan dolar AS kepada pembeli di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp15.300 pada perdagangan Selasa (4/10) siang, dimana sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah mulai melandainya nilai dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi laporan terkait militer Amerika Serikat (AS) menyerang fasilitas Iran di Suriah yang memicu aliran dana ke aset-aset safe haven.

“Serangan tersebut yang dilakukan terhadap dua fasilitas di Suriah Timur merupakan pembalasan atas serangan baru-baru ini terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Jumat (27/10/2023).

Serangan terhadap pasukan AS telah meningkat sejak dimulai konflik antara Israel melalui Hamas (kelompok perlawanan Palestina) pada awal bulan Oktober 2023. Berita ini dianggap meningkatkan kekhawatiran atas eskalasi konflik Timur Tengah yang lebih luas.

Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang rupiah melemah 19 poin atau 0,12 persen menjadi Rp 15.939 per dolar AS dari penutupan sebelumnya sebesar Rp 15.920 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis (26/10/2023) turut melemah ke posisi Rp15.941 dari sebelumnya Rp 15.933 per dolar AS.

 

Menurut pengamat pasar uang Ariston Tjendra, rupiah melemah karena rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal III 2023 jauh lebih baik dibandingkan kuartal II 2023, yakni 4,9 persen dari 2,1 persen.

“Data ini menunjukkan ekonomi AS masih solid, sehingga masih memungkinkan untuk Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuannya untuk meredam inflasi ke target dua persen,” katanya.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih memicu sentimen hindari risiko di pasar keuangan yang membebani rupiah sebagai aset berisiko. Secara historis, perang antara Israel dengan Hamas (kelompok perlawanan dari Palestina) berlangsung selama 2-3 bulan. Ini berarti nilai tukar rupiah berpotensi terganggu mengingat babak eskalasi baru dimulai sejak 7 Oktober 2023.

Investor pada hari ini juga tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index AS yang diprediksi meningkat 0,3 persen month to month (MoM) dan 3,7 persen year on year (YoY).

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement