Kamis 26 Oct 2023 12:18 WIB

Raih Penghargaan MURI, Syngenta Indonesia Siapkan 15 LDC untuk Pelatihan 4.500 Petani

Jumlah LDC Syngeta jadi yang terbanyak di Indonesia

Syngenta Indonesia meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas kegiatan pelatihan agronomi, teknologi, dan literasi digital pertanian kepada 4.500 petani Indonesia serentak di 15 titik Pusat Pengembangan dan Pembelajaran (Learning Development Center – LDC).
Foto: Dok Syngenta Indonesia
Syngenta Indonesia meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas kegiatan pelatihan agronomi, teknologi, dan literasi digital pertanian kepada 4.500 petani Indonesia serentak di 15 titik Pusat Pengembangan dan Pembelajaran (Learning Development Center – LDC).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syngenta Indonesia meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas kegiatan pelatihan agronomi, teknologi, dan literasi digital pertanian kepada 4.500 petani Indonesia serentak di 15 titik Pusat Pengembangan dan Pembelajaran (Learning Development Center – LDC). 

Jumlah LDC ini juga menjadi jumlah pusat pengembangan dan pembelajaran terbanyak di Indonesia yang dimiliki oleh perusahaan formulator teknologi perlindungan tanaman. Penghargaan ini diberikan oleh MURI kepada Syngenta Indonesia di sela-sela kegiatan pelatihan di Karawang, Jawa Barat.

Pelatihan ini dilakukan sebagai wujud aktualisasi komitmen Syngenta Indonesia untuk mengedukasi petani Indonesia sehingga petani dapat meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan panen yang lebih produktif dan berkelanjutan.

“Syngenta Indonesia akan terus menjadi mitra terpercaya petani dalam usaha budidaya pertanian, mendukung dan melatih petani untuk meningkatkan produktivitas tanaman serta pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan para petani,” ujar Marketing Head Syngenta Indonesia Suhendro saat penyerahan rekor MURI tersebut.

 

Pelatihan petani

Pelatihan bagi petani yang diselenggarakan oleh Syngenta Indonesia terdiri atas materi agronomi untuk berbagai jenis tanaman pangan yang meliputi padi, cabai, tomat, kentang, bawang merah, bawang daun, serta jagung.  Petani berdiskusi dengan tim teknis Syngenta Indonesia di tiap-tiap LDC  mengenai tantangan budidaya yang mereka hadapi terutama tekanan hama dan penyakit di tiap-tiap fase tumbuh tanaman.

Petani yang hadir dalam kegiatan juga mendapatkan paparan mengenai teknologi Syngenta Indonesia yang dapat mengendalikan tekanan hama dan penyakit. Beberapa teknologi yang ditampilkan yaitu teknologi Tinivion (Elestal Neo) untuk mengendalikan kutu kebul sebagai vector penyebab virus kuning pada tanaman cabai dan tomat, teknologi Amistar (AmistarTop) untuk mengendalikan penyakit tanaman padi dan sayur dengan spektrum luas, teknologi Adepydin (Miravis Duo) untuk mengendalikan alternaria pada tanaman kentang dan embun bulu pada cabai, serta teknologi Virtako untuk mengendalikan penggerek batang pada tanaman padi.

“Tekanan hama dan penyakit merupakan salah satu hal yang dapat menghilangkan potensi hasil panen yang sangat siginifikan hingga 30 hingga 90 persen sehingga harus dikendalikan dengan cepat dan tepat oleh petani. Pemahaman akan agronomi tanaman sangat penting untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya hama dan penyakit dan pengetahuan akan teknologi pengendalian hama dan penyakit yang tepat dari Syngenta akan membantu petani mendapatkan hasil yang optimal,” ungkap Technical Excellence Head Syngenta Indonesia Dwi Susilowati.

Pelatihan Digitalisasi Petani

Perkembangan teknologi dan digitalisasi juga mendorong pengembangan teknologi aplikasi produk perlindungan tanaman dengan pendekatan penyemprotan presisi melalui pemanfaatan teknologi drone. Penyemprotan presisi menggunakan drone dilakukan di sebagai sebuah demonstrasi dimana memberikan gambaran pertanian di masa depan.

Petani yang hadir juga diperkenalkan dengan literasi digital seperti media sosial yang dimiliki oleh Syngenta Indonesia yang menjadi pusat forum diskusi petani dari berbagai area di Indonesia termasuk Facebook Syngenta Rumah Tani Indonesia. Facebook Syngenta Rumah Tani Indonesia memberikan wadah forum bagi petani Indonesia dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan upaya usaha tani mereka. 

Salah satu inovasi digital yang juga diintroduksi adalah aplikasi CropWise yang dikembangkan oleh Syngenta Indonesia. CropWise memiliki fitur unggulan yang mencakup prediksi cuaca, kalendar semprot, lokasi kios pertanian terdekat, diagnosa hama dan penyakit, serta rekomendasi teknologi pengendalian hama dan penyakit. 

Pusat Pengembangan dan Pembelajaran (Learning Development Center – LDC) merupakan pusat-pusat pembelajaran yang disediakan bagi petani Indonesia untuk mengembangkan pemahaman akan agronomi tanaman, penyakit dan hama tanaman, serta akses akan teknologi berkulitas dari Syngenta Indonesia. 

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di 15 lokasi di seluruh Indonesia. Lokasi-lokasi tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia diantaranya Deli Serdang dan Karo - Sumatra Utara, Bukittinggi dan Alahan Panjang - Sumatra Barat, Trimurjo dan Sekampung Udik - Lampung, Karawang dan Lembang - Jawa Barat, Sukoharjo, Grobogan dan Magelang - Jawa Tengah, Jember, Mojokoerto dan Malang - Jawa Timur, Serta Sidrap - Sulawesi Selatan. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement