Selasa 17 Oct 2023 09:24 WIB

Dunia Dorong Gencatan Senjata di Palestina, IHSG Dibuka Positif

Presiden AS Joe Biden akan mengunjungi Israel, Rusia bicara dengan pimpinan TimTeng.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Pengunjung mengamati data saham melalui aplikasi IDX Mobile di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pengunjung mengamati data saham melalui aplikasi IDX Mobile di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan Selasa (17/10/2023). IHSG menguat 0,20 persen ke level 6.910,22 setelah ditutup melemah kemarin sebesar 0,44 persen.

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan pergerakan IHSG sejalan dengan mayoritas saham di Asia. Nikkei meningkat 0,99 persen, kemudian Hang Seng menyusul dengan kenaikan 0,45 persen dan Strait Times naik 0,25 persen.

Baca Juga

"Indeks saham di Asia pagi ini dibuka menguat didorong optimisme upaya diplomasi yang  mungkin dapat mencegah konflik antara Israel dan Hamas yang sudah memasuki hari ke-10 dan melebar menjadi konflik regional," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Presiden AS Joe Biden akan mengunjungi Israel sebagai bagian dari upaya mencegah konflik melebar. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, juga kembali ke Israel untuk bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanyahu setelah bertemu dengan para pemimpin negara-negara Arab.

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan lewat telepon dengan pemimpin Mesir, Suriah, dan Otoritas Palestina. Pihak Kremlin melaporkan telah terbentuknya pendapat yang bulat mengenai perlunya gencatan senjata.

Indeks saham utama di Wall Street semalam ditutup menguat hampir lebih dari satu persen, meskipun imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun naik sembilan basis poin menjadi 4,72 persen. Biasanya, kenaikan imbal hasil surat utang bertenor 10 tahun justru memberi tekanan pada kinerja pasar saham.

"Investor masih memantau perkembangan konflik antara Israel dan Hamas, khususnya berkaitan dengan apakah AS dapat mencegah konflik ini menyeret negara lain, terutama Iran," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Perang regional disebut dapat mengerek harga minyak hingga menembus 100 dolar AS per barel. Hal tersebut dikhawatirkan berpotensi memperbesar risiko terjadinya resesi global.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement