Sabtu 07 Oct 2023 06:54 WIB

Supaya Masyarakat tak Ketergantungan pada Beras, Ini Saran Sosiolog

Sosialisasi dan pendampingan pangan lokal oleh dinas terkait harus digencarkan.

Ubi jalar.
Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Ubi jalar.

REPUBLIKA.CO.ID, AMBON -- Sosiolog  Universitas Pattimura Ambon, Maluku, Fransina Matakena, mengemukakan, perlu sinergi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di provinsi itu untuk meningkatkan minat masyarakat mengonsumsi pangan lokal.

"Dewasa ini kita melihat bahwa makanan lokal di Maluku hanya menjadi trend saat acara-acara tertentu, bukan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di Kota Ambon," ujar Fransina di Ambon, Sabtu (7/10/2023).

Baca Juga

Hal itu dikatakannya merespon pernyataan Kementerian Dalam Negeri yang menyatakan perlunya diversifikasi pangan untuk mengatasi kelangkaan komoditas beras akibat fenomena El Nino. Juga guna mengurangi ketergantungan akan jenis pangan tertentu.

Menurut Fransina yang juga merupakan Ketua jurusan Sosiologi Fisip Unpatti tersebut, saat ini masyarakat Maluku khususnya di Kota Ambon telah terbiasa mengonsumsi beras sebagai makanan utama. Kecuali di desa-desa, justru mereka terbiasa dengan panganan lokal seperti singkong dan ubi-ubian.

 

Ia menilai untuk menjawab diversifikasi pangan tersebut juga perlu dilakukan sosialisai oleh OPD terkait kepada masyarakat di perkotaan agar mulai membiasakan diri mengonsumsi pangan lokal. "Misalnya sosialisasi dari Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Sosial," Fransina.

Ia melanjutkan, tak hanya sosialisasi saja namun pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berbahan dasar pangan lokal pun penting dilakukan jika ingin membiasakan masyarakat kembali ke pangan lokal.

"Salah satu contohnya untuk Maluku sendiri yaitu mie berbahan dasar sagu, kemudian sagu yang diolah menjadi makanan khas Tual Maluku tenggara yaitu enbal. Artinya sosialisasi, dan pendampingan oleh dinas terkait juga harus digencarkan ditambah lagi dengan melibatkan akademisi sehingga diversifikasi pangan bisa berhasil di masyarakat," kata Fransina menjelaskan.

Dia mengatakan, program tersebut mesti dijalankan secara sistematis dan perlahan dengan kampanye masif sebagai langkah awal. "Kalau tidak sistematis nanti hanya akan menjadi trend saja. Karena masyarakat kita belum kenyang kalau belum makan nasi," ucapnya.

Sementara itu Pemerintah Provinsi Maluku telah menggalakkan gerakan menanam sukun di Desa Tengah-Tengah,  Maluku untuk meningkatkan minat konsumsi pangan lokal di daerah itu. Pemerintah juga telah menyerahkan 500 bibit sukun kepada petani di pulau Ambon, penyerahan alat pengolahan sukun, dan penyerahan surat ijin penggunaan lahan kebun sumber benih sukun varietas Tengah-Tengah.

"Ini untuk mengantisipasi krisis pangan global serta meningkatkan kemandirian pangan mari kita menggalakkan penanaman sukun di Maluku," kata Gubernur Maluku Murad Ismail.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement