Rabu 27 Sep 2023 09:38 WIB

IHSG Dibuka Turun Seiring Anjloknya Wall Street 

IHSG belum berhasil menembus kembali level psikologis 7.000.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Karyawan melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/8/2022). IHSG belum berhasil menembus kembali level psikologis 7.000.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Karyawan melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/8/2022). IHSG belum berhasil menembus kembali level psikologis 7.000.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah ada perdagangan pada Rabu (27/9/2023). Pagi ini, IHSG belum berhasil menembus kembali level psikologis 7.000 dan justru semakin melemah ke level 6.913,35. 

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan penurunan IHSG sejalan dengan indeks saham di Asia yang dibuka melemah pagi ini. "Indeks melemah menjelang rilis data Industrial Profit dan rilis data indikator inflasi bulanan Australia," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Baca Juga

Di AS, indeks saham utama di Wall Street semalam turun lebih dari satu persen dengan DJIA mencatatkan pelemahan terburuk sejak Maret dan S&P 500 mencatatkan penurunan kelima selama enam hari terakhir.

Volatilitas di Wall Street akhirnya turut naik, terihat dari S&P 500 Volatility Index (VIX) yang berada di level 19,0, sangat dekat dengan rata-rata jangka panjangnya. Padahal baru beberapa minggu lalu VIX mencatatkan level terendahnya sejak sebelum terjadinya pandemi.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun naik menjadi 4,55 persen dari 4,54 persen dan bertahan di sekitar level tertingginya sejak 2007. Hal ini mendorong nilai tukar dolar AS ke level tertinggi dalam 12 bulan.

Yield US Treasury Note bertenor 10 tahun sudah terbang cukup tinggi mengingat yield berada di 3,50 persen pada Maret lalu dan 0,50persen sekitar tiga tahun lalu. Investor bergulat dengan prospek suku bunga yang tinggi untuk waktu yang lama dan dampaknya terhadap ekonomi.

Kekhawatiran investor bertambah seiring adanya potensi penghentian sebagaian aktivitas dan layanan Pemerintah AS mulai akhir pekan ini. Menurut agen pemeringkat Moody’s Investor Service hal tersebut akan mencederai peringkat utang AS.

Dari sisi makroekonomi, investor mencerna rilis sejumlah data ekonomi AS. Data New Home Sales memperlihatkan jumlah penjualan rumah baru di AS anjlok 8,7 persen secara bulanan di Agustus setelah naik 8,0 persen di Juli seiring dengan melonjaknya suku bunga KPR 30 tahun lebih dari 7,0 persen sehingga memaksa calon pembeli untuk menunda pembelian rumah baru.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement