Selasa 06 Jan 2026 10:05 WIB

IHSG Diproyeksikan Menguat, Pasar Abaikan Konflik AS–Venezuela

SG dibuka menguat 25,42 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.884,62.

Tamu undangan berada di dekat layar elektronik pergerakan saham saat acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025 di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Foto: Republika/Prayogi
Tamu undangan berada di dekat layar elektronik pergerakan saham saat acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025 di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa diperkirakan bergerak menguat seiring pelaku pasar cenderung mengabaikan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. IHSG dibuka menguat 25,42 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.884,62. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,66 poin atau 0,19 persen ke posisi 861,44.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.730–8.920," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (6/1/2025).

Baca Juga

Dari mancanegara, menurut Nico, pelaku pasar cenderung tidak terlalu memedulikan situasi yang tengah terjadi antara AS dan Venezuela, seiring optimisme terhadap pemulihan ekonomi global. Ia menilai harga minyak tidak terlalu bergejolak di tengah konflik tersebut karena cadangan minyak global masih terjaga dengan baik.

Sementara itu, harga emas mengalami kenaikan signifikan sebagai respons terhadap meningkatnya tensi geopolitik. Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencermati saham-saham berbasis emas.

Dari dalam negeri, pemerintah melanjutkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun pada 2026. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 90 Tahun 2025 yang berlaku mulai 1 Januari 2026.

Insentif berupa 100 persen PPN DTP diberikan untuk rumah baru dan siap huni dengan harga maksimal Rp 5 miliar, khusus untuk bagian harga hingga Rp 2 miliar. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Fasilitas ini berlaku untuk penyerahan pertama oleh pengembang yang dibuktikan dengan akta jual beli (AJB) atau perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) lunas serta berita acara serah terima selama periode 1 Januari–31 Desember 2026.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan sebesar 2,66 miliar dolar AS. Inflasi Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan sebesar 2,92 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pada perdagangan Senin (5/1/2026), bursa saham Eropa ditutup kompak menguat. Indeks Euro Stoxx 50 naik 1,30 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,54 persen, indeks DAX Jerman naik 1,34 persen, serta indeks CAC Prancis menguat 0,20 persen.

Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street juga ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026). Indeks S&P 500 naik 0,64 persen dan ditutup di level 6.902,09, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,23 persen ke posisi 48.977,49, serta indeks Nasdaq naik 0,77 persen ke level 25.401,32.

Adapun bursa saham regional Asia pada perdagangan pagi ini juga bergerak menguat. Indeks Nikkei naik 0,69 persen ke level 52.201,00, indeks Shanghai menguat 0,85 persen ke posisi 4.057,74, indeks Hang Seng melonjak 1,45 persen ke level 26.746,50, dan indeks Straits Times menguat 0,86 persen ke posisi 4.720,62.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement