Jumat 22 Sep 2023 15:27 WIB

Era Suku Bunga Tinggi akan Berangsur Turun, Ini Dampaknya ke Iklim Investasi

Kenaikan suku bunga AS akan berhenti dan cenderung berangsur turun.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Foto: AP Photo/Nathan Howard
Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Era suku bunga tinggi diproyeksi akan berakhir pada tahun ini. Direktur Investasi BNI Asset Management Putut Andanawarih memprediksi kenaikan suku bunga AS akan berhenti dan cenderung berangsur turun dalam jangka panjang. 

"Kami melihat era suku bunga tinggi di 2024-2026 akan berangsur turun," kata Putut, Jumat (22/9/2023).

Baca Juga

Menurut Putut, pemangkasan suku bunga oleh AS ke depannya menjadi sebuah keniscayaan. Suku bunga yang mengalami kenaikan terlalu tinggi dan bertahan dalam waktu yang cukup panjang akan memukul roda perekonomian di AS. 

The Fed melihat ekonomi AS saat ini masih cukup solid, walaupun inflasi masih tinggi, sehingga The Fed mengindikasikan akan menaikkan suku bunga satu kali lagi di sisa 2023. Berdasarkan The Fed’s dot plot akan ada pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali pada 2024, dibandingkan ekspektasi sebelumnya empat kali.

Ekspektasi suku bunga The Fed hingga akhir 2023 menunjukkan median rate dot plot sebesar 5,6 persen. Adapun dalam jangka menengah ke panjang, The Fed memberikan ekspektasi suku bunga akan berada pada level 5,1 persen pada 2024 (naik dari estimasi sebelumnya 4,6 persen) dan 3,9 persen pada 2025 (naik dari estimasi sebelumnya 3,4 persen).

The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak enam kali sejak September 2022 dari 3,25 persen menjadi 5,5 persen hingga saat ini. Pada periode yang sama Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga sebanyak dua kali dari 4,25 persen menjadi 5,75 persen. 

Putut mengatakan era suku bunga rendah akan memberikan dampak positif ke iklim investasi terutama pasar Obligasi atau Reksa Dana Pendapatan Tetap. Per 20 September 2023, yield US-Treasury 10 tahun dan SBN 10 tahun tutup di level 4,44 persen dan 6,78 persen sehingga spread yield mengecil menjadi 2,34 persen, di mana rata-rata spread yield dalam lima tahun ke belakang di kisaran 4,77 persen.

Putut mengatakan, walaupun spread yield obligasi cenderung rendah dan investor mencatatkan capital outflow dalam sebulan terakhir, yield SBN masih cukup menarik. Hal tersebut mengingat kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai stabil.

"Untuk itu, investor dapat memanfaatkan momentum volatilitas yang ada dan secara bertahap mengalokasikan dana Investasi pada kelas aset Obligasi maupun Reksa Dana Pendapatan Tetap berdurasi panjang agar dapat menikmati potensi kenaikan harga sebagai dampak dari penurunan suku bunga acuan di tahun mendatang," kata Putut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement