Rabu 20 Sep 2023 21:23 WIB

Alhamdulillah, Mangga Indonesia Sudah Bebas dari Lalat Buah

Badan Standardisasi Instrumen Pertanian kembangkan teknologi meminimalisir lalat buah

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Ratusan jenis mangga asal Indonesia dipamerkan di Festival Mangga Nusantara, yang merupakan bagian dari Gebyar Agrostandar di Lapangan BB Biogen Komplek BSIP Cimanggu, Kota Bogor untuk mengedukasi masyarakat mulai 19 hingga 21 September 2023.
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Ratusan jenis mangga asal Indonesia dipamerkan di Festival Mangga Nusantara, yang merupakan bagian dari Gebyar Agrostandar di Lapangan BB Biogen Komplek BSIP Cimanggu, Kota Bogor untuk mengedukasi masyarakat mulai 19 hingga 21 September 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Beberapa tahun terakhir, buah mangga yang dihasilkan petani Indonesia belum bisa diterima di pasar luar negeri karen lalat buah. Menyikapi hal tersebut, Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) pun mengembangkan teknologi untuk meminimalisasi serangan lalat buah. 

Kepala BSIP, Fadjry Jufri, mengatakan teknologi itu sudah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir. Sehingga hal itu berdampak baik terhadap ekspor buah mangga ke luar negeri.

“Alhamdulillahh negara tujuan ekspor sudah mau menerima, karena kita sudah bisa meyakinkan mereka bahwa kawasan binaan yang kita kelola mangga itu bebas dari lalat buah,” kata Fadjry ketika ditemui Republika di Kota Bogor, Rabu (20/9/2023).

Ia berharap, ke depan semua kebun mangga di Indonesia bisa dijamin bebas lalat buah. Sehingga semua produk yang keluar dari kebun para petani di Indonesia juga bisa dinikmati dunia.

“Alhamdulillahh besok Pak Menteri mau ke Arab Saudi. Target kita ke Jepang, Korea, yang selama ini itu (menolak), juga bisa. Karena mangga di sana satu biji bisa Rp 300 ribu harganya. Kita di sini punya banyak mangga kan. Kalau bisa masuk mangga kita, bukan main,” ucapnya.

Sekretaris BSIP, Haris Syahbuddin, mengatakan ada tiga kabupaten di Indonesia yang para petaninya dibina untuk mengendalikan lalat buah. Yakni Kabupaten Majalengka, Indramayu, dan Cirebon.

“Dari petani di tiga kabupaten itu, ini kita tumbuhkan terus. Kita punya target ada kegiatan ‘I Care’ didanai oleh bank dunia itu tentang mangga di Pasuruan dari punyanya Badan Litbang yang dulu itu dipakai sama mereka,” kata Haris.

BSIP pun menyebut ada 178 jenis mangga yang ada di Indonesia. Sebagian di antaranya dipamerkan di Festival Mangga Nusantara, yang merupakan bagian dari Gebyar Agrostandar di Lapangan BB Biogen Komplek BSIP Cimanggu, Kota Bogor untuk mengedukasi masyarakat.

Kepala BSIP Buah Tropika Solok Sumatra Barat, Yunimar, mengatakan pihaknya berpartisipasi dalam perayaan satu tahun berdirinya BSIP. Mangga dipilih sebagai salah satu komoditas buah tropika selain durian, manggis, alpukat, rambutan, dan buah naga. 

Ia mengatakan, dalam festival ini pihaknya mengedukasi dan memperkenalkan kepada masyarakat, bahwa Indonesia memiliki jenis mangga yang luar biasa. Bahkan tidak kalah dengan negara luar.

“Perku diketahui kita punya varietas mangga terbesar kedua di Asia Tenggara, setelah India. Nah 178 ini bertambah lagi karena ada silangan-silangan yang dilakukan teman-teman eks peneliti,” tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement