Rabu 30 Aug 2023 19:38 WIB

Pertamina Tunggu Restu BPH Migas untuk Izinkan Pertashop Jual Pertalite

Ketersediaan infrastruktur yang mumpuni diperlukan oleh Pertashop.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ahmad Fikri Noor
Warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Pertashop, Yogyakarta.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Pertashop, Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Utama PT Pertamina (Persero) menyampaikan, usulan para pelaku usaha Pertashop untuk bisa menjual BBM Pertalite bersubsidi tengah dalam pembahasan bersama BPH Migas. Pertamina akan membuka pintu izin bagi Pertashop bila BPH Migas telah memberikan restu. 

“Kami sudah melakukan pembahasan ini dan tadi pagi pun ada pembahasan dengan BPH Migas. Kami sedang melakukan kajian karena diperlukan infrastruktur yang memadai,” kata Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR, Rabu (30/8/2023). 

Baca Juga

Ia menuturkan, ketersediaan infrastruktur yang mumpuni diperlukan karena menyangkut pertanggungjawaban penjualan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Seperti diketahui, BBM Pertalite merupakan bahan bakar bersubsidi yang penjualannya akan diaudit oleh BPK. 

Di SPBU sendiri, ungkap Nicke, telah menerapkan sistem digital pada tangki. Setiap SPBU juga memasang CCTV sebagai pengawasan aktivitas penjualan. Infrastruktur itu tentunya juga harus dimiliki oleh Pertashop. 

 

Ia menyampaikan, jika Pertashop nantinya diperbolehkan menjual Pertalite juga tidak akan bersifat penugasan. “Kami akan menawarkan kepada Pertashop jika nanti setelah keputusan dari BPH Migas go, tentu kita buka. Silakan Pertashop kalau mau buka Pertalite,” ujarnya. 

Ditargetkan, kajian pembahasan bersama BPH Migas akan selesai pada kuartal IV 2023 sehingga Pertashop bisa mendapatkan titik terang ihwal keinginan menjual Pertalite. Namun, ia juga mengingatkan, margin keuntungan dari penjualan Pertashop tak sebesar penjualan Pertamax. “Marginnya jauh lebih rendah, mungkin hanya sekitar 40 persen dari margin Pertamax karena ini barang subsidi jadi marginnya pun dipatok pemerintah,” ujar dia. 

Nicke memberikan asumsi, Pertashop harus menjual Pertalite 3,5 kali lipat lebih banyak dari Pertamax bila ingin mendapatkan besaran margin yang setara.  

Sebelumnya, ratusan pengusaha outlet Pertashop mengaku menderita kerugian sejak PT Pertamina menaikkan harga BBM Pertamax hingga terpaut jauh dengan BBM Pertalite. Pasalnya, konsumen yang biasa membeli bahan bakar nonsubsidi di Pertashop kini beralih ke Pertalite yang hanya khusus dijual di SPBU Pertamina. Mereka pun mengharapkan agar bisa ikut menjual Pertalite demi bisa mengembangkan usahanya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement