Senin 14 Aug 2023 10:04 WIB

Hilirisasi Nikel di Indonesia, Kemenperin: Multiplier Effect Mulai Terlihat

Terdapat 34 smelter yang sudah beroperasi dan 17 sedang dalam kontruksi.

Pekerja bersiap membersihkan lahan dengan alat berat usai seremoni pembangunan pengolahan nikel (smelter) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Foto: ANTARA/Bayu Pratama S
Pekerja bersiap membersihkan lahan dengan alat berat usai seremoni pembangunan pengolahan nikel (smelter) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak bergulirnya program hilirisasi sumber daya alam terutama logam nikel di tanah air beberapa multiplier effect. mulai terlihat di dalam ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan juru bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, di sela sela peringatan hari Kemerdekaan RI ke 78 yang diadakan di Kantor pusat Kemenperin.

Menurut Febri, berdasarkan data yang ada, terdapat 34 smelter yang sudah beroperasi dan 17 sedang dalam kontruksi. Investasi yang telah tertanam di Indonesia sebesar 11 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 165 Triliun ini Smelter Pyronetalurgi. Adapun Hydrometalurgi terdapat tiga Smelter investasinya mencapai 2,8 miliar dolar AS atau mendekati Rp 40 Triliun untuk produksi MHP (Mix Hydro Precipitate) untuk bahan baku baterai.  

Baca Juga

Selama masa konstruksi kehadiran smelter ini menyerap produk lokal selama konstruksi dan saat ini yang bekerja di smelter tersebut sekitar 120 ribu orang. Dilihat dari lokasi smelter tersebar di berbagai provinsi yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara serta Banten. Hal ini tentu mendorong pertumbuhan perekonomian di daerah tersebut dengan meningkatnya pdrb di daerah lokasi Smelter berada.

"Besarnya multiplier effect Smelter nikel ini dapat dilihat  dari nilai tambahnya jika hanya nikel ore saja yang di ekspor. Hitung hitungan kami, nilai tambah yang dihasilkan dari nikel ore hingga produk hilir meningkat berkali kali lipat jika kita memproses di dalam negeri atau menghilirkan proses barang mentah," kata dia, seperti dilansir dari Antara, Senin (14/8/2023). 

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, misal nilai nikel ore mentah dihargai USD 30/ton ketika menjadi Nikel Pig Iron (NPI) naik 3,3 kali mencapai 90 dolar AS/ton, menjadi Ferronikel 6.76 kali atau setara 203 dolar AS/ton terus menjadi Niikel Matte naik nilai tambahnya menjadi 43,9 kali atau 3.117 dolar AS/ton lebih. Ia mengatakan, sekarang Indonesia sudah punya smelter menjadikan MHP sebagai bahan baku baterai nilai tambahnya  sekitar 120,94 kali (USD 3628/ton). 

"Hal ini tentu akan menambah pemasukan PNBP dan pajak pajak lain yang nilainya triliunan. Dari sini saja jika kita ekspor bahan mentah cuman dapat 17 Triliun setelah diproses menghasillan diatas 510 Triliun sangat mudah karena nilai tambah ini. Lebih leboh jika ada pabrik baterai mengibah ore menjadi LiNiMnCo bisa mencapai 642 kali lipat nilai tambahnya," kata Febri. 

Lebih lanjut dia menerangkan, jika dilihat performa kontribusi logam dasar ke ekonomi, PDB logam dasar di Kwartal 1 2023 tumbuh 11,39 persen. Semester 1 tahun 2023 ini logam dasar memperoleh pdb sebesar Rp 66,8 triliun. Selama periode tahun 2022 tumbuh diatas 15 persen dengan nilai Rp 124,29 triliun  juga tahun 2021 tumbuh double digit setara Rp 108,27 triliun. Bahkan di masa covid tahun 2020 industri logam dasar berhasil tumbuh mengesankan. 

"Indikator ini sebenarnya sangat jelas benefit smelter buat ekonomi nasional sangat jelas bukan untuk negara lain meskipun hadirnya PMA sebagai pengungkit investasi untuk pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Febri. 

Selanjutnya, Posisi Indonesia sebagai eksportir utama produk hilir logam nikel terus menguat dalam beberapa tahun terakhir, utamanya setelah kebijakan hilirisasi dan pelarangan ekspor biji nikel dijalankan. Ekspor Stainless steel, baik dalam bentuk slab, HRC maupun CRC menyentuh angka sebesar 10,83 miliar dollar AS di tahun  2022. Nilai ekspor ini meningkat 4,9% dari tahun 2021  yang sebesar 10,32 miliar dolar AS. Berdasarkan data worldstopexport tahun 2022, Indonesia menjadi eksportir HRC ranking 1 dunia dengan nilai 4,1 miliar dolar AS. 

Febri menambahkan, tidak hanya itu, ekspor produk hilir dari nikel lainnya juga terus meningkat pesat. Tercatat pada tahun 2022, nilai ekspor ferronikel mencapai 13,6 miliar dolar AS, atau meningkat 92% dibandingkan nilai ekspor pada tahun 2021 yang sebesar 7,08 miliar AS.

Nilai ekspor nikel matte juga melonjak sebesar 300%, dari 0,95 miliar dolar pada tahun 2021 menjadi 3,82 miliar dolar AS pada tahun 2022. 

Bukan hanya itu, hadirnya nikel di Indonesia mampu mengerek PDRB industri di provinsi dimana Smelter nikel berada. Sulawesi Tengggara sebagai produsen nikel terbesar di Indonesia mengalami pertumbuhan PDRB industri pengolahan sebesar 16,74 persen pada tahun 2022, yang sebagian besar disumbang oleh industri pengolahan nikel. 

Keutamanaam lainnya ekonomi hilirisasi ini  adalah ekspor produk nikel Sulawesi Tengggara pada 2022 mencapai 5,826 miliar dolar AS atau 99,92 persen dari total ekspor provinsi tersebut, yang mengindikasikan besarnya peran dari industri nikel. 

"Juga jika dilihat dari perolehan PNBP dari sektor logam nikel ini uga mengalami kenaikan yang mengagumkan, terutama dari daerah-daerah penghasil nikel. Tahun 2022, PNBP dari daerah penghasil nikel mencapai Rp 10,8 triliun, meningkat dari tahun 2021  sebesar Rp 3,42 triliun. Total PNBP dari 5 provinsi penghasil nikel mencapai Rp 20,46 triliun sepanjang tahun 2021-2023 kwartal II, dengan provinsi Sulawesi Tenggara sebagai penyumbang terbesar (Rp 8,73 triliun), disusul provinsi Maluku Utara (Rp 6,23 triliun)," ujar Febri. 

Hadirnya smelter dalam kerangka hilirisasi nikel ini juga memberikan dampak pada sektor umkm di wilayah di sekitar smelter dan juga meningkatkan aglomerasi ekonomi di wilayah tersebut, sehingga melihat hilirisasi jangan dilihat dari ownersip smelter pma atau pmdn tetapi lebih ke arah pendekatan nilai tambah ekonomi sehingga benefit yang dirasakan hilirisasi ini dapat memberikan nilainyata bagi pembangunan nasional.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement