Selasa 25 Jul 2023 12:58 WIB

Jajaki Bisnis Energi Terbarukan, Begini Prospek Saham COAL

Pergerakan saham COAL ditopang oleh frekuensi yang melonjak signifikan.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ahmad Fikri Noor
Karyawan berada di dekat papan pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023).
Foto: Republika/Prayogi.
Karyawan berada di dekat papan pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga saham PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) pada perdagangan Senin (24/7/2023) menguat 5,75 persen ke level 92 per saham di tengah isu penjajakan bisnis baru di bidang energi terbarukan. Pergerakan saham COAL ditopang oleh frekuensi yang melonjak signifikan dari hari-hari sebelumnya yang hanya ditransaksikan ratusan kali langsung ditransaksikan sebanyak 2.251 kali. Volume saham juga tercatat ditransaksikan sebanyak 41,32 juta saham.

Sebelumnya, perseroan dikabarkan sedang menjajaki bisnis lain selain batu bara. Perseroan melihat adanya peluang ekspansi bisnis di bidang energi terbarukan yang berhubungan dengan industri panel surya. 

Baca Juga

Corporate Secretary COAL Cardina Novianty Adiputra menyebutkan rencana ekspansi di bidang energi terbarukan ini merupakan salah satu strategi untuk pengembangan usaha perseroan. COAL melihat permintaan listrik berbasis energi ramah lingkungan mengalami peningkatan.

COAL melihat harga jual batu bara terus meningkat setelah menyentuh titik terendah dalam dua tahun terakhir. Kenaikan harga kali ini dipengaruhi oleh kenaikan gelombang suhu panas di Asia dan Eropa yang mengakibatkan kecenderungan permintaan dunia meningkat.

"Perseroan memandang peluang ini sebagai langkah untuk merencanakan peningkatan produksi dan penjualan batu bara hingga 700 ribu ton pada 2023," ujar Cardina dalam keterangan pers, Selasa (25/7/2023).

Empat tahun terakhir, China masih menjadi faktor dominan dalam hal permintaan batu bara terlebih saat ini China tengah dilanda gelombang suhu panas yang mencapai 52,2oC. Pada 2024, perseroan merencanakan peningkatan produksi batu bara hingga dua kali lipat dibanding 2023 untuk memenuhi tingginya permintaan batu bara tersebut.

Melihat kondisi bisnis COAL saat ini, Analis Bahana Sekuritas Dimas menyatakan saham COAL saat ini ada dalam buy on break dengan target harga di level 127 dan stop loss di 85. Dimas menyebut pergerakan saham COAL cenderung Flat dengan rentang 85-93, menarik bila berhasil break out level 93 Indikator STochastic Uptrend (10.3.3) dan MACD Histogram Positif.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mengatakan kinerja top line pada saham COAL mengalami lonjakan yang signifikan 133 persen yoy pada kuartal I 2023. Namun, ini tidak sejalan dengan kinerja labanya yang mengalami penurunan 69 persen yoy. Meningkatnya beban keuangan serta kerugian kurs menjadi faktor pendorong turunnya laba pada saham COAL.

Di sisi lain, masih melemahnya harga batu bara bisa menjadi tantangan saham COAL pada tahun ini. Akan tetapi, secara teknikal karena sudah di level support kemungkinan masih akan ada potensi teknikal rebound dari saham COAL. "Kami merekomendasikan trading buy dengan target price 97-98," ujar Abdul Aziz.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement