Kamis 19 Mar 2026 19:02 WIB

Idul Fitri di Tengah Bayang Perang, Daya Beli Melemah

Idul Fitri 1447 Hijriah datang di tengah situasi global yang tidak menentu.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Muhammad Hafil
Untung dari Perang. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Untung dari Perang. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Idul Fitri 1447 Hijriah datang di tengah situasi global yang tidak menentu. Konflik Iran dengan Israel yang melibatkan Amerika Serikat serta penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap dampak ekonomi, termasuk di Indonesia. Di dalam negeri, tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat mulai terasa dan berimbas pada tradisi mudik tahun ini.

Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik mencapai sekitar 1 juta orang, atau sekitar 50,6 persen dari populasi. Angka itu turun 1,75 persen dari hasil survei dan merosot 6,55 persen dibandingkan realisasi mudik tahun lalu. Penurunan ini dinilai tidak lepas dari tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Baca Juga

“Daya beli masyarakat sedang melemah, ini berpengaruh langsung terhadap keputusan untuk mudik,” ujar ekonom dari Indef, Hakam Naja, di Jakarta, dikutip Kamis (19/3/2026).

Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan harga kebutuhan pokok. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan sebesar 0,68 persen pada Februari 2026, berbalik dari deflasi 0,15 persen pada Januari. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga melemah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS, lebih tinggi dari asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500.

Kondisi ini membuat harga barang impor, termasuk pangan, minyak, dan gas, ikut terdorong naik. Bagi sebagian masyarakat, kenaikan harga tersebut langsung terasa pada pengeluaran harian, terutama menjelang Lebaran.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi