REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks saham utama Wall Street bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (10/2/2026). S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi, sementara Dow Jones menguat tipis. Pelemahan dipicu data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan. Penjualan ritel AS pada Desember tercatat stagnan, meleset dari ekspektasi kenaikan 0,4 persen secara bulanan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap kekuatan konsumsi di AS. Pasar juga tertekan oleh isu perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor keuangan. Pada penutupan perdagangan, S&P 500 turun 0,33 persen. Nasdaq Composite melemah 0,59 persen. Sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,10 persen.
Di tingkat emiten, saham Costco turun lebih dari 2 persen. Saham Walmart melemah lebih dari 1 persen.
Tekanan juga terjadi di sektor jasa keuangan. Platform teknologi Altruist meluncurkan alat perencanaan pajak berbasis AI. Saham LPL Financial anjlok 8,3 persen. Saham Charles Schwab turun 7,4 persen, sementara Morgan Stanley melemah lebih dari 2 persen.
Pelaku pasar kini menanti rilis data ketenagakerjaan utama AS pada Rabu (11/2/2026). Pasar juga mencermati data inflasi Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) pada Jumat (13/2/2026).
Di Asia, mayoritas bursa saham menguat. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,28 persen dan mencetak rekor baru. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,58 persen. Taiex Taiwan menguat 2,06 persen dan Kospi Korea Selatan naik tipis 0,07 persen.
Sebaliknya, indeks ASX 200 Australia melemah 0,03 persen. Indeks FTSE Malay KLCI turun 0,21 persen, sementara FTSE Straits Times Singapura naik 0,07 persen.
Penguatan Nikkei didorong sentimen politik domestik. Investor mencermati kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pemilihan umum.
Kemenangan tersebut dinilai memberi mandat kuat bagi pemerintah untuk mendorong belanja negara dan pemangkasan pajak. Pemerintah Jepang juga berencana menangguhkan pajak penjualan 8 persen atas makanan selama dua tahun.
IHSG Menguat
Sementara di dalam negeri Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (11/2/2026) pagi, dibuka menguat 21,05 poin atau 0,26 persen ke posisi 8.152,79. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 0,99 poin atau 0,12 persen ke posisi 830,42.
Penguatan terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing. Nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp 917 miliar. Saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BUMI, BBCA, DEWA, BUVA, dan BBRI.
Analis BNI Sekuritas Fanny Suherman merekomendasikan enam saham untuk strategi perdagangan jangka pendek pada Rabu. Saham yang direkomendasikan antara lain BKSL, INET, ADMR, BBCA, CDIA, dan BRPT.
“Rekomendasi saham hari ini antara lain BKSL, INET, ADMR, BBCA, CDIA, dan BRPT,” ujar Fanny.
Untuk saham BKSL, strategi yang disarankan adalah beli spekulatif di kisaran harga 134–136. Target terdekat berada di area 140–146 dengan batas kerugian di bawah 131.
Saham INET direkomendasikan beli jika mampu menembus level 354. Target terdekat berada di kisaran 362–370 dengan batas kerugian di bawah 342.
Pada saham ADMR, strategi yang disarankan adalah beli spekulatif di area 1.880–1.890. Target terdekat berada di kisaran 1.920–1.960 dengan batas kerugian di bawah 1.850.
Saham BBCA direkomendasikan beli spekulatif di kisaran 7.400–7.450. Target terdekat berada di area 7.550–7.650 dengan batas kerugian di bawah 7.375.
Untuk saham CDIA, strategi beli spekulatif disarankan di area 1.090–1.110. Target terdekat berada di kisaran 1.150–1.180 dengan batas kerugian di bawah 1.080.
Sementara itu, saham BRPT direkomendasikan beli jika mampu menembus level 2.050. Target terdekat berada di kisaran 2.100–2.160 dengan batas kerugian di bawah 2.000.
Fanny mengingatkan, rekomendasi saham bersifat jangka pendek dan mengandung risiko. Investor diminta menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing.