Selasa 13 Jun 2023 09:40 WIB

Bursa Saham Global Bergairah, IHSG Dibuka Hijau

Pekan ini adalah pekan yang cukup krusial bagi ekonomi AS.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Karyawan mengamati pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah, turun 0,25 persen atau 17,03 poin ke level 6.880 pada penutupan perdagangan Jumat (10/2/2023) sore ini.
Foto: Republika/Prayogi.
Karyawan mengamati pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah, turun 0,25 persen atau 17,03 poin ke level 6.880 pada penutupan perdagangan Jumat (10/2/2023) sore ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan Selasa (13/6/2023). IHSG menguat ke level 6.744,03 setelah ditutup naik 0,42 persen pada perdagangan kemarin. 

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan, pergerakan IHSG sejalan dengan bursa global yang cenderung optimistis. Indeks saham di Asia pagi ini dibuka menguat mengikuti pergerakan indeks saham utama di Wall Street semalam yang ditutup naik.

"Pasar saham di AS sedang bergairah didorong oleh harapan bahwa ekonomi AS mungkin terhindar dari resesi dan ekspektasi bank sentral AS mungkin segera memperlambat laju kenaikan suku bunga acuan," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Akibatnya, sepanjang 2023 ini indeks S&P 500 dan NASDAQ masing-masing sudah melonjak 13,0 persen dan 28,6 persen, sementara DJIA sudah bertambah 2,8 persen. Semalam ketiga indeks utama Wall Street tersebut kompak menguat signifikan. 

Pekan ini adalah pekan yang cukup krusial bagi ekonomi AS, ditandai dengan rilis data inflasi (CPI) Mei pada Selasa dan pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 13-14 Juni. Inflasi Utama AS diprediksi naik 0,2 persen dari Mei, melambat dari kenaikan 0,4 persen di April. Sementara inflasi inti Mei diramal naik 0,4 persen.

Data inflasi Mei ini diyakini tidak akan mengubah keputusan Federal Reserve. Namun jika ternyata keluar sesuai ekspektasi atau memperlihatkan redanya tekanan kenaikan harga, data ini mungkin akan membujuk Federal Reserve untuk mengambil sikap yang tidak terlalu galak (less hawkish).

Di pasar komoditas, harga minyak mentah jatuh sekitar empat persen, dengan kontrak berjangka (futures) minyak mentah jenis Brent ditutup di level terendah sejak Desember 2021. Harga minyak mentah tertekan oleh kekhawatiran mengenai lemahnya permintaan dan melimpahnya pasokan minyak global.

"Ketidakpastian arah suku bunga dan antisipasi rilis data inflasi AS juga menambah kekhawatiran investor," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement