Selasa 06 Jun 2023 16:11 WIB

Pembangunan Pabrik Soda Ash Pertama di RI akan Dimulai Awal 2024

Pabrik soda ash dapat beroperasi secara komersial pada akhir 2026.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
Pupuk Kaltim menargetkan proyek pembangunan pabrik soda ash dimulai pada 2024.
Foto: istimewa
Pupuk Kaltim menargetkan proyek pembangunan pabrik soda ash dimulai pada 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) menargetkan proyek pembangunan pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur, mulai berjalan pada awal tahun depan. Ketua Tim Persiapan Soda Ash PT Pupuk Kalimantan Timur Wildan Hamdani menyampaikan perusahaan menargetkan pabrik soda ash dapat beroperasi secara komersial pada akhir 2026.

"Progresnya saat ini izin lingkungan untuk pembangunan pabrik soda ash sudah diperoleh," ujar Wildan acara media briefing bertajuk "Soda Ash, Strategi PKT dalam Transformasi Industri Hijau dan Dukung Indonesia Net Zero Emission 2060" secara virtual pada Selasa (6/6/2023).

Baca Juga

Wildan menyampaikan perusahaan saat ini sedang melakukan proses prakualifikasi atau proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu dari kontraktor sebelum memasukkan penawaran tender. Wildan menjelaskan pabrik seluas 16 hektare ini nantinya memiliki kapasitas masing-masing 300 ribu metrik ton per tahun (mpty) untuk soda ash dan ammonium klorida. 

"Indonesia belum punya pabrik soda ash. Padahal setiap tahunnya mengimpor hampir satu juta ton soda ash sebagai bahan baku utama," ucap Wildan.

 

Wildan memperkirakan impor soda ash akan terus meningkat mengingat pentingnya soda ash yang dikenal sebagai bahan baku utama pembuatan kaca, keramik, detergen, kimia, tekstil, dan kertas. Wildan menilai kehadiran pabrik soda ash dengan nilai investasi sebesar 200 juta dolar AS atau sekira Rp 3 triliun ini akan memberikan sejumlah efek domino, baik dari peningkatan nilai tambah produk ammonia PKT, penerapan circular economy dengan memanfaatkan excess CO2 sehingga dapat menurunkan emisi CO2 sebesar 174 ribu mpty, serta mendorong perekonomian lokal dan pembukaan lapangan kerja. 

"Perkiraan akan ada 1.000 tenaga kerja untuk project ini saat peak (puncak) mungkin di akhir 2025. Pemberdayaan tenaga kerja lokal menjadi prioritas sesuai peraturan pemerintah pusat dan pemerintah daerah," lanjut Wildan.

Wildan menyampaikan produksi pabrik soda ash sendiri masih akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. PKT, lanjut Wildan, telah menargetkan sejumlah wilayah yang akan menjadi pasar utama dari produk soda ash seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Riau, Sumatera Selatan, dan Sumatra Utara.  

"Sudah banyak yang berminat dan mendaftar sehingga kami melakukan berbagai kerja sama berupa MoU dengan calon offtaker," sambung Wildan.

Wildan menyampaikan rencana pembangunan pabrik soda ash memerlukan sekitar 105 ribu mtpy ammonia dan 174 ribu mpty Co2 yang disuplai dari internal perusahaan. Selain itu, pabrik soda ash juga membutuhkan sedikitnya 345 ribu mtpy NaCL atau garam industri.

"Kita sudah melakukan penjajakan dan MoU dengan sejumlah calon pemasok garam industri dan kita juga terus memastikan fasilitas kami seperti dermaga bisa digunakan dengan baik agar pasokannya berjalan lancar," kata Wildan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement