Selasa 16 May 2023 09:44 WIB

IHSG Dibuka Naik Mengekor Bursa Global

Indeks saham utama di Wall Street semalam juga ditutup naik.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Karyawan mengamati pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah, turun 0,25 persen atau 17,03 poin ke level 6.880 pada penutupan perdagangan Jumat (10/2/2023) sore ini.
Foto: Republika/Prayogi.
Karyawan mengamati pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (10/2/2023). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah, turun 0,25 persen atau 17,03 poin ke level 6.880 pada penutupan perdagangan Jumat (10/2/2023) sore ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (16/5/2023) di level 6.729,07. IHSG kembali mengalami kenaikan setelah ditutup menguat tipis sebesar 0,06 persen kemarin.

Phillip Sekuritas Indonesia mengatakan pergerakan IHSG sejalan dengan penguatan bursa global. Indeks saham di Asia pagi ini mayoritas dibuka menguat menjelang perilisan data penting ekonomi China untuk bulan April.

Baca Juga

Indeks saham utama di Wall Street semalam juga ditutup naik. Sementara imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun naik menjadi 3,49 persen dari 3,46 persen.

"Investor memantau kebuntuan pembicaraan platfon utang Pemerintah AS sambil mencerna perilisan data ekonomi terbaru dan komentar dari sejumlah pejabat tinggi bank sentral AS," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Berita adanya kemajuan dalam pembicaraan plafon utang memicu optimisme bahwa para politisi AS akan dapat memecahkan kebuntuan dan mencapai kesepakatan untuk menambah anggaran belanja Pemerintah serta menghindari kondisi gagal bayar (default).

Dari sisi makroekonomi, investor mencerna perilisan data NY Empire State Manufacturing Index yang secara tak terduga anjlok ke level minus 31,8 di bulan Mei. Ini level terendah dalam empat bulan dari level 10,8 di bulan April.

Data ini menggambarkan penurunan tajam pada aktivitas sektor manufaktur di negara bagian New York setelah sempat rebound di bulan April. Investor mengantisipasi perilisan data Penjualan Ritel AS yang akan memperlihatkan bagaimana pengaruh perlambatan ekonomi AS terhadap belanja konsumen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement