Jumat 27 Jan 2023 16:58 WIB

Rupiah Melemah Seiring Laporan AS Soal Pengangguran Turun

Pertemuan The Fed pekan depan juga jadi sentimen penggerak rupiah.

Petugas memberikan uang pecahan dolar AS kepada pembeli di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp15.300 pada perdagangan Selasa (4/10) siang, dimana sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah mulai melandainya nilai dolar AS.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Petugas memberikan uang pecahan dolar AS kepada pembeli di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp15.300 pada perdagangan Selasa (4/10) siang, dimana sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah mulai melandainya nilai dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore melemah seiring rilis laporan Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) yang mengeklaim pengangguran turun.

Kurs rupiah ditutup turun 38 poin atau 0,25 persen ke posisi Rp14.986 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya, Rp 14.948 per dolar AS.

Baca Juga

"Penguatan indeks dolar AS karena data ekonomi AS yang mendukung kinerja dolar saat ini muncul dari laporan Departemen Tenaga Kerja AS," kata Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Amru Syifa saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (27/1/2023).

Amru menuturkan, laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran negara bagian turun 6.000 menjadi 186 ribu yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 21 Januari 2023, level terendah sejak April 2022.

 

Jumlah orang yang menerima tunjangan setelah pekan pertama bantuan meningkat 20 ribu menjadi 1,675 juta untuk pekan yang berakhir 14 Januari 2023.

Perusahaan di luar industri teknologi serta sektor sensitif suku bunga seperti perumahan dan keuangan menimbun pekerja setelah kesulitan mencari tenaga kerja selama pandemi yang menimbulkan kekhawatiran resesi.

Selain itu, lanjut Amru, sinyal menjelang pertemuan bank sentral AS, The Fed, yang diselenggarakan pada pekan depan turut menjadi sentimen penggerak rupiah. The Fed diperkirakan hanya menaikkan tingkat suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) lagi.

Dolar naik terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah data menunjukkan ekonomi AS mempertahankan laju pertumbuhan yang kuat pada kuartal keempat, mendukung kasus The Fed untuk mempertahankan sikap hawkish-nya lebih lama.

Produk Domestik Bruto (PDB) AS meningkat pada tingkat tahunan 2,9 persen pada kuartal terakhir, lebih tinggi dari ekspektasi 2,6 persen. Perekonomian tumbuh pada kecepatan 3,2 persen pada kuartal ketiga.

Data menunjukkan, ekonomi terus memperlihatkan ketahanan dalam menghadapi pengetatan moneter yang cepat sejauh ini yang disampaikan oleh The Fed.

Dari sisi domestik, Amru mengatakan, rupiah ditopang dengan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan dalam negeri.

Aliran modal asing masuk tercatat Rp 14,8 triliun pada periode 16-19 Januari 2023 yang mayoritas masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Sejak 1-19 Januari 2023 aliran modal asing masuk dilaporkan Rp 36,33 triliun.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp 14.970 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp 14.964 per dolar AS hingga Rp 14.996 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat tergelincir ke posisi Rp 14.978 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.964 per dolar AS pada Kamis (26/1).

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement