REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Tekanan global kembali membayangi pergerakan rupiah pada awal 2026 seiring penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, meski indikator stabilitas eksternal Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Data Bank Indonesia (BI) menunjukan rupiah pada Jumat pagi (2/1/2026) dibuka pada level (bid) Rp16.680 per dolar AS, sedikit melemah dibandingkan posisi penutupan akhir 2025. Pergerakan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS dan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun.
Bank Indonesia mencatat indeks dolar (DXY) menguat ke level 98,32, sementara yield US Treasury Note 10 tahun naik ke 4,167 persen. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi domestik, respons pasar obligasi relatif terjaga. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat stabil di kisaran 6,04 persen, mencerminkan persepsi risiko yang masih terkendali. Hal ini juga tercermin dari penurunan premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahunmenjadi 67,78 basis poin, dari sebelumnya 69,95 basis poin.
Dari sisi aliran modal, nonresiden pada periode 29–31 Desember 2025 masih membukukan beli neto Rp2,43 triliun, terutama di pasar saham dan SBN, meski tekanan masih terlihat pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menanggapi dinamika tersebut, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakosomenegaskan bank sentral terus menjaga stabilitas nilai tukar.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujarnya dalam keterangan dikutip Sabtu (3/1/2026).