Senin 14 Nov 2022 13:08 WIB

Dorong Industri Kesehatan, BUMN Farmasi Kantongi Investasi Rp 1,86 Triliun

Ini sejalan tujuan pemerintah kembangkan industri kesehatan berstandar internasional

Rep: Novita Intan/ Red: Gita Amanda
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Pahala Nugraha Mansury. (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Pahala Nugraha Mansury. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- BUMN Farmasi PT Bio Farma (Persero), PT Kimia Farma (Persero) Tbk dan PT Kimia Farma Apotek menandatangani kerja sama strategis dengan Silk Road Fund (SRF) dan Indonesia Investment Authority (INA) terkait pengembangan industri kesehatan di Indonesia. Hal ini sejalan tujuan pemerintah untuk mengembangkan industri kesehatan yang berkualitas dan standar internasional.

Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury mengatakan kerja sama investasi dapat membuka akses Kimia Farma ke expertise dari investor global. "Akses pada ekspertis investor global juga akan memperkuat posisi perusahaan serta meningkatkan kualitas mengacu pada standar internasional," ujarnya dalam keterangan tulis, Senin (14/11/2022).

Kolaborasi para pihak dituangkan melalui penandatanganan Conditional Share Subscription and Purchase Agreement beserta dokumen-dokumen transaksi terkait lainnya antara Kimia Farma dan anak usahanya, Kimia Farma Apotek, dengan SRF dan INA. Adapun total investasi sebesar Rp 1,86 triliun, sebesar 40 persen kepemilikan Kimia Farma, tergantung kepada closing account mechanics berdasarkan laporan keuangan pada saat completion.

“Investasi tersebut akan digunakan untuk mendanai ekspansi bisnis strategis Kimia Farma Apotek, kebutuhan modal kerja serta inisiatif untuk meningkatkan efisiensi operasional,” ucapnya.

 

Kedua investor juga akan berpartisipasi dalam rencana transaksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu yang telah disetujui dalam rapat umum pemegang saham luar biasa pada 14 Oktober 2022.

“Kimia Farma Apotek akan mendapatkan dana untuk mendukung modal kerja dalam rangka ekspansi perusahaan dan peningkatan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada masyarakat Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, menambahkan kerja sama investasi itu akan memperkuat struktur permodalan kerja anak usaha dan cucu usaha grup Bio Farma.

"Sebagai holding group BUMN Farmasi, Bio Farma mendukung setiap wujud nyata investasi dalam pengembangan industri healthcare di Indonesia," ucapnya.

Direktur Utama Kimia Farma David Utama menambahkan masuknya investor akan membuka peluang pasar dan jaringan Kimia Farma, dari sisi ritel dan layanan kesehatan, hingga ke luar negeri. Selain itu, kolaborasi tersebut dapat meningkatkan struktur permodalan Kimia Farma Apotek, sehingga mampu melakukan pengembangan usaha ke depan dan dalam jangka panjang akan meningkatkan nilai perusahaan.

"Kerja sama investasi ini akan memperkokoh struktur permodalan perseroan, sehingga mampu meningkatkan performa operasional dan finansial untuk mengembangkan kinerja perseroan yang lebih baik," ucapnya.

Chairwoman of the Board of Directors SRF Zhu Jun menambahkan kesepakatan tersebut merupakan proyek utama dari kerja sama berkualitas tinggi antara Tiongkok dan Indonesia di bawah Belt and Road Initiative dan merupakan peluang investasi yang menarik.

"Dukungan Pemerintah Indonesia yang kuat dan upaya bersama INA, kami berharap dapat bekerja sama dengan manajemen Kimia Farma dan Kimia Farma Apotek dalam fase pengembangan perusahaan selanjutnya," ucapnya.

Ketua Dewan Direktur INA Ridha Wirakusumah menambahkan pihaknya optimistis kesepakatan tersebut dapat membuka potensi ekosistem farmasi di Indonesia.

Kimia Farma Group merupakan perusahaan yang secara mumpuni memiliki kapasitas dari hulu ke hilir di seluruh rantai nilai sektor farmasi, dengan lebih dari 1.100 outlet, 400 klinik, dan 70 laboratorium diagnostik.

"Kami percaya kerjasama dengan SRF yang dituangkan dalam perjanjian ini akan mendukung ekspansi perusahaan guna meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia yang kurang terlayani," ucapnya.

Sesuai dengan mandatnya, INA berperan untuk menarik investasi, baik domestik maupun internasional, sebagai alternatif pembiayaan non-utang yang akan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis kesehatan berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai salah satu sumber pembiayaan alternatif, keterlibatan SRF dan INA mendukung perwujudan kemakmuran jangka panjang bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement