Kamis 20 Oct 2022 18:09 WIB

BI Pastikan Ketersediaan Pasokan Valas di Pasar

Saat ini pertumbuhan kredit valas sangat pesat.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya
Transaksi valas -ilustrasi
Transaksi valas -ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memastikan ketersediaan pasokan valuta asing di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan alasan likuiditas valuta asing yang dinilai terbatas meski neraca perdagangan cukup besar.

Menurutnya, ini satu hal yang kemungkinan agak berbeda dari periode-periode lalu. Saat ini kredit valas tumbuhnya sangat pesat sekali, per September 2022 itu tumbuh 18,1 persen, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK)-nya 8,4 persen.

Baca Juga

"Kalau kita lihat sumber pendanaannya dari DPK itu memang kesannya terbatas," katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI Oktober 2022, Kamis (20/10/2022).

Padahal, kata dia, sumber pendanaan valas tersebut bisa lebih bervariasi. Tidak hanya dari pinjaman, tapi juga penerbitan surat utang, SBN yang dimiliki bank itu pun bisa digunakan untuk mendapatkan valas.

Destry mengatakan, BI terus mengamati perkembangan likuiditas valas. Jika pasokan valasnya memang terbatas, maka BI akan melakukan stabilisasi di pasar, karena BI punya nilai fundamental dari Rupiah itu sendiri.

Destry menambahkan, transmisi  BI rate ke perbankan juga masih belum terjadi secara penuh. Suku bunga kredit masih tumbuhnya 2o bps sementara depositnya tumbuh 10 bps. "Artinya ini bank pun dalam posisi ingin terus dorong pertumbuhan kredit pertumbuhan itu sendiri yang sedang tumbuh pesat," katanya.

BI melaporkan kondisi likuiditas di perbankan dan perekonomian tetap longgar. Pada September 2022, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tinggi mencapai 27,35 persen.

Rasio ini tetap mendukung kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit, di tengah berlangsungnya normalisasi kebijakan likuiditas melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah secara bertahap dan pemberian insentif GWM. Pertumbuhan kredit pada September 2022 tercatat sebesar 11,00 persen (yoy), ditopang oleh peningkatan di seluruh jenis kredit dan seluruh sektor ekonomi.  

Pemulihan intermediasi juga terjadi pada perbankan syariah, dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 19,0 persen (yoy) pada September 2022. Di segmen UMKM, pertumbuhan kredit UMKM tercatat sebesar 17,13 persen (yoy) pada September 2022, terutama didukung oleh segmen mikro.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan kredit pada 2022 diprakirakan berada pada kisaran 9 - 11 persen (yoy). Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) pada Agustus 2022 pun tercatat masih terkendali karena perbankan yang memperkuat pencadangan kredit atau CKPN yang tercatat 2,88 persen (bruto) dan 0,79 persen (neto).  

"Maka dari itu kita terus mendorong untuk peningkatan kredit dengan melanjutkan insentif untuk uang muka nol persen kredit kendaraan bermotor dan Loan to Value (LTV) 100 persen untuk properti," katanya. BI melanjutkan pelonggaran ini yang berlaku efektif 1 Januari 2023 sampai dengan 31 Desember 2023.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement