Senin 03 Oct 2022 12:50 WIB

Jokowi Ingin Perusahaan Besar dan UMKM Kompak

Jokowi ingin semua pihak bisa kompak bekerja sama seperti saat menghadapi pandemi.

Rep: Dessy Suciati Saputri / Red: Nidia Zuraya
Presiden Joko Widodo meminta perusahaan besar, menengah, hingga kecil kompak bekerja sama menghadapi ketidakpastian global yang semakin tinggi.
Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Presiden Joko Widodo meminta perusahaan besar, menengah, hingga kecil kompak bekerja sama menghadapi ketidakpastian global yang semakin tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta perusahaan besar, menengah, hingga kecil kompak bekerja sama menghadapi ketidakpastian global yang semakin tinggi. Jokowi mengatakan, situasi ekonomi dunia saat ini pun sedang dalam kondisi yang sulit dan semakin tidak baik.

Hal ini disampaikannya saat peluncuran gerakan kemitraan inklusif untuk UMKM naik kelas di gedung SMESCO, Jakarta, Senin (3/10/2022). “Kuncinya, kita semua harus kompak. Kita semuanya harus bersinergi, kita semuanya harus memiliki perasaan yang sama. Karena yang kita hadapi adalah sebuah tantangan yang tidak mudah. Kompak. Sehingga perlu yang namanya Indonesia incorporated, yang besar, yang menengah, yang kecil, bekerja sama, berkolaborasi bersama menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di lapangan secara konkret dan nyata,” jelas Jokowi.

Baca Juga

Ia mengatakan, jika pengusaha besar hingga kecil bekerja sama, maka akan menjadi sebuah kekuatan besar. Jokowi pun ingin, semua pihak bisa kembali kompak bekerja sama seperti saat menghadapi pandemi Covid-19.

“Jakarta, provinsi, kabupaten kota, sampai ke desa semuanya memang kita harus bekerja sama. Seperti kita saat menyelesaikan pandemi, semuanya saya lihat bekerja sama. Pemerintah, swasta, dari pusat sampai ke desa, semuanya bekerja sama,” tambah dia.

 

Ia pun kemudian mencontohkan kekagumannya terhadap pendampingan yang diberikan pihak swasta kepada para petani jagung. Dengan pendampingan tersebut, para petani jagung pun mampu meningkatkan produksinya. Sehingga juga bisa menekan angka impor jagung yang sebelumnya sangat tinggi.

Menurut Jokowi, selama tujuh tahun terakhir ini, jumlah impor jagung semakin menurun dan kini hanya sekitar 800 ribu ton jagung yang diimpor dari sebelumnya sebanyak 3,5 juta ton per tahun. Karena itu, Presiden mendorong agar pendampingan ini juga bisa dilakukan di berbagai komoditas lainnya, seperti padi, singkong, porang, kopi, dll.

Ia juga tak ingin, perusahaan besar yang berdiri di suatu daerah tak memberikan pembinaan terhadap masyarakat di lingkungan sekitar. “Itu menjadi tugas perusahaan-perusahaan besar kita. Jangan sampai ada perusahaan besar berada di sebuah daerah, pabriknya kelihatan tinggi-tinggi dan besar sekali, lingkungannya miskin. Hati-hati, bina lingkungan itu sangat penting. Warung-warungnya kumuh, kenapa tidak seperti yang di depan tadi, ada pembinaan warung-warung,” jelas Jokowi.

Menurut dia, pemerintah tidak mungkin bisa memberikan pendampingan dan pembinaan secara cepat kepada para pelaku UMKM. Karena itu, dibutuhkan kerja sama dan gerakan kemitraan dengan berbagai pihak swasta.

Apalagi, kata dia, nantinya akan ada banyak pabrik otomotif yang berdiri di Indonesia. Ia pun mendorong para perusahaan besar tersebut untuk bermitra dengan UMKM-UMKM industri.

“Entah bikin knalpotnya, entah bikin spionnya misalnya, entah pengerjaan interior kursinya di dalam. Bisa perusahaan besar bermitra dengan petani, perusahaan besar bermitra dengan UMKM,” lanjutnya.

Jokowi meyakini, jika kemitraan perusahaan besar dengan para pelaku UMKM bisa dilakukan, maka juga akan membantu menekan angka kemiskinan ekstrem di berbagai daerah. “Bisa perusahaan besar bermitra dengan petani, perusahaan besar bermitra dengan UMKM. Artinya, kalau ini bisa berjalan saya meyakini akan berefek pada kemiskinan ekstrem yang akan bisa tertangani dengan cepat dan baik,” ungkapnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement