Kamis 28 Jul 2022 18:08 WIB

OJK Catat Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh Dua Digit, NPL Terjaga

OJK mencatat penyaluran kredit tumbuh 10,6 persen meski ekonomi global melemah.

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Warga bertansaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Galeri ATM Stasiun KA Juanda, Jakarta.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 10,66 persen pada semester I 2022. Adapun realisasi ini didorong oleh kenaikan kredit korporasi dan konsumsi.
Foto: Antara/Reno Esnir
Warga bertansaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Galeri ATM Stasiun KA Juanda, Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 10,66 persen pada semester I 2022. Adapun realisasi ini didorong oleh kenaikan kredit korporasi dan konsumsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 10,66 persen pada semester I 2022. Adapun realisasi ini didorong oleh kenaikan kredit korporasi dan konsumsi.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan terus bertumbuh, meski di tengah tekanan inflasi dan melemahnya kondisi ekonomi global.

“Secara sektoral, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan bulanan tertinggi, yakni 38,3 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan diikuti sektor pertambangan sebesar 23,5 persen mtm,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (28/7/2022).

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) pada Juni 2022 mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,13 persen atau melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 9,93 persen secara tahunan.

“Ke depan OJK menjaga kinerja industri jasa keuangan tetap positif dan semakin produktif berkontribusi terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

Di tengah peningkatan kredit, profil risiko perbankan terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net sebesar 0,80 persen dan NPL gross sebesar 2,86 persen. Selain itu, restrukturisasi kredit Covid-19 masih melanjutkan tren penurunan pada semester I 2022 menjadi Rp 576,17 triliun, dari bulan sebelumnya sebesar Rp 596,25 triliun. 

“Debitur restrukturisasi juga turun dari 3,13 juta debitur menjadi 2,99 juta debitur pada Juni 2022,” ucapnya.

Dari sisi likuiditas industri perbankan pada semester I 2022 masih berada pada level yang memadai. Terlihat dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit dan Alat Likuid/DPK sebesar 133,35 persen dan 29,99 persen, atau di atas ambang batas ketentuan masing-masing pada level 50 persen dan 10 persen.

“Lembaga jasa keuangan juga mencatatkan permodalan yang semakin membaik. Industri perbankan mencatatkan peningkatan capital adequacy ratio (CAR) menjadi sebesar 24,69 persen,” ucapnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement