Jumat 11 Feb 2022 12:04 WIB

Pasokan Minyak Goreng Masih Langka, Aprindo Tegaskan Ritel Modern tidak Menimbun

Kelangkaan minyak goreng karena pasokan dari produsen dan distributor belum optimal.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Warga memilih minyak goreng kemasan premium dan produk impor akibat habisnya persediaan minyak goreng sawit di salah satu pusat perbelanjaan di Banda Aceh, Aceh, Kamis (10/2/2022). Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menegaskan bahwa toko ritel modern yang menjadi anggota Aprindo tidak menimbun minyak goreng baik di gudang maupun di gerai.
Foto: ANTARA/ Irwansyah Putra/foc.
Warga memilih minyak goreng kemasan premium dan produk impor akibat habisnya persediaan minyak goreng sawit di salah satu pusat perbelanjaan di Banda Aceh, Aceh, Kamis (10/2/2022). Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menegaskan bahwa toko ritel modern yang menjadi anggota Aprindo tidak menimbun minyak goreng baik di gudang maupun di gerai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menegaskan bahwa toko ritel modern yang menjadi anggota Aprindo tidak menimbun minyak goreng baik di gudang maupun di gerai.

"Prinsip dasar operasional kami adalah produk yang dikirimkan dari produsen dan distributor ke gudang peritel, maka akan langsung kami distribusikan ke gerai-gerai dan langsung dijual kepada konsumen. Bukan hanya minyak goreng, tapi semua dan berbagai produk yang ada di gerai juga seperti itu," kata Roy dalam pernyataan resminya diterima Republika.co.id, Jumat (11/2/2022).

Baca Juga

Lebih lanjut, ia menjelaskan tidak ada urgensi atau kepentingan mengapa ritel modern harus menahan stok minyak goreng di gudang. Selain gudang peritel sangat terbatas karena berisikan berbagai macam barang, model bisnis ritel modern adalah langsung menjual produk ke konsumen akhir sehingga tidak akan mungkin menjual barang-barangnya kepada agen atau pihak lain lagi.

"Bagaimana  mungkin dan tidak masuk di akal sehat, ketika saat ini kita sendiri masih belum terpenuhi pasokan berdasar purchasing order (PO) kepada distributor minyak goreng kepada gerai gerai kami dan selalu langsung habis di beli oleh konsumen dalam waktu 2-3 jam sejak gerai dibuka, dengan demikian dari mana lagi stok nya untuk menjual ke pasar rakyat," kata dia.

Pihaknya pun menyayangkan pemberitaan dan sangkaan bahwa ritel modern menghambat penyaluran minyak goreng kepada masyarakat. "Di saat kami mendukung sepenuhnya dan membantu pemerintah untuk mendistribusikan minyak goreng secara merata, terjangkau dan fair, kepada masyarakat," katanya

Roy menambahkan, kelangkaan minyak goreng adalah karena pasokan minyak goreng dari produsen dan distributor yang memang belum optimal serta animo masyarakat untuk membeli minyak goreng lebih besar karena harga yang terjangkau, sesuai program pemerintah untuk menstabilkan harga hingga harga dan pasokan minyak goreng kembali normal.

"Perlu pula diinformasikan, bahwa tidak semua gerai yang berada diluar pasar tradisional adalah ritel modern, ada warung atau toko  tradisional,  toko agen, toko grosir yang bukan format ritel modern dan juga bukan anggota ritel modern anggota Aprindo," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement