Kamis 10 Feb 2022 11:39 WIB

Saham Asia Melemah Jelang Data Inflasi AS

Investor lebih berhati-hati di tengah ketidakpastian prospek inflasi dan suku bunga.

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi
 Seorang pria melihat papan saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. Reli saham global yang didorong oleh teknologi mendingin di perdagangan Asia pada Kamis (10/2/2022) pagi, karena investor mengambil sikap yang lebih berhati-hati.
Foto: AP/Koji Sasahara
Seorang pria melihat papan saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. Reli saham global yang didorong oleh teknologi mendingin di perdagangan Asia pada Kamis (10/2/2022) pagi, karena investor mengambil sikap yang lebih berhati-hati.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Reli saham global yang didorong oleh teknologi mendingin di perdagangan Asia pada Kamis (10/2/2022) pagi, karena investor mengambil sikap yang lebih berhati-hati di tengah ketidakpastian seputar prospek inflasi dan suku bunga.

Namun, imbal hasil obligasi dunia terus menurun dari level tertinggi multi-tahun dan dolar di kisaran ketat menjelang laporan inflasi AS. Data imbal hasil obligasi dan data inflasi AS yang akan dirilis di kemudian hari seharusnya menawarkan petunjuk baru tentang laju kenaikan suku bunga AS.

Baca Juga

Minyak mentah melanjutkan tren naiknya karena penarikan besar dalam persediaan AS menggarisbawahi pengetatan yang sedang berlangsung di pasar.

Indeks acuan Nikkei Jepang memulai hari hampir 1,0 persen lebih tinggi sebelum memulai penurunan yang membawanya mendekati wilayah negatif. Kemudian rebound menjadi 0,33 persen lebih tinggi.

Sementara itu, saham-saham unggulan China (CSI300) merosot 0,52 persen dan Hang Seng (HSI) Hong Kong melemah 0,31 persen. Sedangkan Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,10 persen.

"Kami tidak tahu berapa banyak kenaikan suku bunga AS yang akan terjadi tahun ini.  Saya rasa The Fed juga tidak tahu, dan itu membuat pasar sedikit gugup, setidaknya," kata Kyle Rodda, seorang analis pasar di IG Australia.

"Kejutan data apa pun akan mengobarkan kegugupan itu, dan itu mengarah pada ketidakstabilan yang kita lihat di pasar."

Pada Rabu (9/2/2022) Big Tech memimpin Wall Street lebih tinggi, dengan Nasdaq melonjak 2,1 persen dan S&P 500 berakhir 1,45 persen lebih tinggi. Kontrak berjangka AS menunjuk lebih rendah, memperlihatkan penurunan 0,28 persen untuk Nasdaq dan penurunan 0,23 persen untuk S&P.

Membantu sentimen semalam adalah penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun tergelincir kembali ke 1,9285 persen di Tokyo pada Kamis dari puncak hampir 2,5 tahun pada Selasa (9/2/2022). Mitra Jermannya mundur dari level tertinggi tiga tahun.

"Itu adalah sesi yang lebih positif untuk obligasi global, dengan imbal hasil obligasi Eropa mengambil nafas dari kenaikan baru-baru ini yang tampaknya tanpa henti," Damien McColough, Kepala Strategi Suku Bunga Westpac, menulis dalam catatan klien.

"Meski begitu, imbal hasil obligasi global telah memasuki fase bearish dan investor kemungkinan akan menuntut premi yang lebih tinggi untuk berinvestasi mengingat risiko inflasi. Jadi kami tetap menjadi penjual taktis yang lebih baik."

Nada yang lebih hawkish dari ECB dan The Fed pekan lalu membuat pasar lengah, membuat imbal hasil melonjak. Imbal hasil acuan obligasi pemerintah 10-tahun Australia merosot ke 2,086 persen pada Kamis dari setinggi 2,157 persen di sesi sebelumnya, mendekati puncak tiga tahun.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement