Jumat 15 Oct 2021 14:36 WIB

Neraca Dagang September 2021 Surplus 4,37 Miliar Dolar AS

Komoditas utama yang berkontribusi terhadap surplus dagang yakni bahan bakar mineral.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
Truk pengangkut kontainer melintas di Pelabuhan Yos Sudarso, Kota Ambon, Maluku, Jumat (2/7). Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan negara dagang perdagangan barang Indonesia sepanjang September 2021 kembali mencatatkan surplus 4,37 miliar dolar AS.
Foto: Antara/FB Anggoro
Truk pengangkut kontainer melintas di Pelabuhan Yos Sudarso, Kota Ambon, Maluku, Jumat (2/7). Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan negara dagang perdagangan barang Indonesia sepanjang September 2021 kembali mencatatkan surplus 4,37 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan negara dagang perdagangan barang Indonesia sepanjang September 2021 kembali mencatatkan surplus 4,37 miliar dolar AS. Meski demikian, angka surplus tersebut lebih rendah dari surplus bulan sebelumnya yang mencapai 4,75 miliar dolar AS.

Kepala BPS, Margo Yuwono, menjelaskan, komoditas utama yang berkontribusi terhadap surplus dagang yakni bahan bakar mineral, minyak dan lemak hewan/nabat, serta besi dan baja. Adapun negara yang memberikan andil utama surplus dagang Indonesia yakni perdagangan dengan Amerika Serikat yang surplus 1,59 miliar dolar AS, India surplus 718,6 juta dolar AS, dan Filipina 713,9 juta dolar AS.

"Neraca dagang surplus selama 17 bulan berturut-turut. Namun kenapa turun dari bulan lalu perlu kita lihat dulu (faktornya)," kata Margo dalam konferensi pers, Jumat (15/10).

Total nilai ekspor sepanjang September 2020 tercatat 20,6 miliar dolar AS sedangkan impor tercatat 16,23 miliar dolar AS. Baik ekspor maupun impor masing-masing mengalami penurunan secara bulanan (month to month/mtm) 3,84 persen dan 2,76 persen. Namun, lantaran nilai ekspor masih lebih tinggi angka surplus masih bisa dicatat.

 

Adapun secara tahunan (year on year/yoy) ekspor masih mencatat kenaikan 47,64 persen dan impor meningkat 40,31 persen.

Lebih detail, dari sisi ekspor khususnya migas tercatat 930 juta dolar AS, turun 12,56 persen mtm tetapi naik 39,79 persen yoy. Adapun ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 390 juta dolar AS, naik 15,04 persen mtm dan turun 4,96 persen yoy.

Sementara itu, ekspor produk industri pengolahan tercatat 15,51 miliar dolar AS, turun 5,29 persen mtm tetapi naik 34,44 persen yoy. Terakhir yakni ekspor pertambangan naik 3,46 persen mtm dan naik signifikan 183,50 persen secara yoy.

Lebih lanjut dari sisi impor, khusus untuk impor migas tercatat 1,86 miliar dolar AS, turun 8,9 persen secara mtm namun naik 59,15 persen secara yoy. Adapun impor barang konsumsi tercatat 1,79 miliar dolar AS, turun 5,28 persen mtm, naik 59,66 persen yoy.

Impor bahan baku tercatat senilai 12,09 miliar dolar AS, turun 2,27 persen secara mtm tetapi masih tumbuh 45,46 persen yoy. Sedangkan impor barang modal mencapai 2,35 miliar dolar AS, turun 2,66 persen namun naik 10,07 persen.

Margo mengatakan, impor nonmigas secara mtm memang kompak mengalami penurunan, tetapi secara tahunan masih mengalami kenaikan. "Ini masih mencerminkan ada geliat ekonomi karena permintaan dari dalam negeri masih bagus baik untuk barang konsumsi maupun bahan baku dan barang modal," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement