Senin 30 Aug 2021 15:26 WIB

Fokus Segmen Wholesale, Kredit Bank Mandiri Naik 16 Persen

Terdapat tiga fokus dalam penajaman bisnis perseroan

Rep: novita intan/ Red: Hiru Muhammad
Gedung Bank Mandiri
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Gedung Bank Mandiri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyalurkan kredit secara konsolidasi sebesar 16,4 persen menjadi Rp 1.014,3 triliun pada kuartal II 2021. Adapun realisasi ini ditopang dari segmen wholesale banking tumbuh 7,13 persen menjadi Rp 534,2 triliun pada kuartal II 2021. 

Kemudian disusul segmen UMKM naik  20,1 persen menjadi Rp 98,3 triliun pada kuartal II 2021. Pertumbuhan tersebut juga diimbangi kualitas kredit yang cukup terjaga dengan rasio non performing loan (NPL) gross sebesar 3,08 persen turun 21 basis poin.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan terdapat tiga fokus dalam penajaman bisnis perseroan. Pertama, integrasi bisnis wholesale dan ritel dengan memaksimalkan potensi value chain pada ekosistem nasabah wholesale. 

Kedua, mengoptimalkan potensi bisnis dan sektor unggulan di wilayah serta penyaluran kredit dilakukan secara prudent kepada targeted customer dengan mempertimbangkan sektor yang masih potensial dan pemulihannya lebih cepat sehingga menghasilkan kualitas kredit yang cukup baik.

 

Ketiga, Bank Mandiri akan mengakselerasi digital dengan mengembangkan solusi digital, perbaikan proses, modernisasi channel, serta peningkatan kapabilitas core banking.“Lewat strategi ini, Bank Mandiri optimis kredit secara bank only mampu tumbuh enam persen sampai tujuh persen YoY pada akhir 2021, tentunya dengan tetap memprioritaskan pertumbuhan secara berkualitas," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (30/8).

Menurutnya komitmen ini salah satunya diwujudkan lewat penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) yang merupakan program andalan pemerintah untuk menyediakan akses pelaku UMKM pada pembiayaan. Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp 19,68 triliun pada akhir paruh pertama tahun ini atau 63,5 persen dari target 2021, dengan jumlah penerima lebih dari 200 ribu debitur UMKM dengan kualitas yang terjaga baik. 

Lalu pada program restrukturisasi kredit terdampak pandemi, Bank Mandiri telah memberikan persetujuan restrukturisasi debitur terdampak pandemi kepada lebih dari 548 ribu debitur dengan nilai persetujuan sebesar Rp 126,5 triliun. Dari nilai tersebut, hingga Juni 2021, total baki debet restrukturisasi Covid-19 sebesar Rp 96,5 triliun, sebesar 62 persen dari total debitur restrukturisasi merupakan pelaku usaha UMKM. 

Tak hanya itu, inovasi serta akselerasi digital Bank Mandiri juga telah membuahkan hasil positif. Adapun digitalisasi layanan melalui aplikasi Livin' by Mandiri sampai Juni 2021 mencatat 7,8 juta pengguna atau meningkat 45 persen dari periode setahun sebelumnya. 

Dari jumlah tersebut, transaksi finansial Livin' by Mandiri mencatatkan kenaikan sebesar 65 persen secara YoY menjadi 434,9 juta transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp 728,9 triliun per Juni 2021. 

“Sadar akan potensi keuangan digital yang masih luas, Bank Mandiri pada tahun ini tengah melakukan pengembangan solusi digital guna mendorong pertumbuhan transaksi digital nasabah dengan memberikan  solusi kemudahan digital baik bagi kebutuhan perusahaan maupun individual,” ungkapnya.

Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) secara konsolidasi tumbuh 19,73 persen menjadi Rp 1.169,2 triliun, dengan komposisi dana murah sebesar 68,49 persen. Pertumbuhan dana murah terutama didorong oleh pertumbuhan giro (bank only) sebesar 40,9 persen pada kuartal II 2021.

Keberhasilan Bank Mandiri dalam menjaga tren pertumbuhan dana murah ini juga ikut menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) Bank Mandiri secara YtD (bank only) menjadi 1,71 persen turun dari level 2,53 persen pada akhir tahun lalu.

Solidnya kinerja finansial Bank Mandiri pada akhir kuartal II 2021 juga terlihat pada pencapaian laba bersih perseroan yang tumbuh 21,45 persen menjadi Rp12,5 triliun, yang terutama disokong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 21,50 persen menjadi Rp 35,16 triliun, serta pertumbuhan pendapatan berbasis jasa (fee based income) sebesar 17,27 persen menjadi Rp15,94 triliun.“Kami memandang tren pertumbuhan ini sebagai sinyal positif bahwa permintaan masih ada dan diharapkan akan terus meningkat. Namun, kami akan tetap waspada dalam mengeksekusi rencana bisnis ke depan,” kata Darmawan.

Maka itu, menurutnya, untuk mengoptimalkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, Bank Mandiri telah melakukan penajaman strategi. Adapun strategi ini sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang mulai menunjukkan kinerja positif, tercermin dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2021 sebesar 7,07 persen. (Novita Intan)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement