Jumat 21 May 2021 00:47 WIB

Bio Farma Bakal Impor 15 Juta Bahan Baku Vaksin Setiap Bulan

Bio Farma telah memiliki kontrak impor 140 juta dosis bahan baku vaksin dari Sinovac.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Nidia Zuraya
Petugas melakukan bongkar muat envirotainer berisi bahan baku vaksin Covid-19 setibanya di PT Bio Farma (Persero), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jumat (30/4). Foto: Republika/Abdan Syakura
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Petugas melakukan bongkar muat envirotainer berisi bahan baku vaksin Covid-19 setibanya di PT Bio Farma (Persero), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jumat (30/4). Foto: Republika/Abdan Syakura

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bio Farma (Persero) menyebut pasokan vaksin dari Sinovac masih berjalan sesuai rencana. Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan Bio Farma telah memiliki kontrak importasi 140 juta dosis bahan baku vaksin dari produsen asal Cina tersebut yang dikirim secara bertahap.

Hingga saat ini, ucap Honesti, Bio Farma telah mendatangkan 65,5 juta dosis bahan baku vaksin dari Sinovac dari total 140 juta dosis bahan baku. Bio Farma telah memproduksi 48,7 juta dosis vaksin dari 65,5 juta dosis bahan baku tersebut.

"Setiap bulan, ada kedatangan bahan baku dari Sinovac. Kita targetkan setiap bulan datang 10 juta sampai 15 juta dosis bahan baku. Dari 140 juta dosis bahan baku, kita akan produksi semuanya sampai Oktober sehingga jumlah totalnya menjadi 122,5 juta dosis vaksin," ujar Honesti saat rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (20/5).

Bio Farma, lanjut Honesti, berencana menambah impor 120 juta dosis bahan baku vaksin dari Sinovac. Honesti mengatakan Bio Farma dan Kemenkes telah membuka pembicaraan mengenai rencana penambahan pasokan bahan baku vaksin dari Sinovac. 

Honesti menilai pasokan bahan baku dan kapasitas produksi Bio Farma akan mampu memenuhi kebutuhan vaksinasi. Honesti menilai pasokan vaksin masih berada dalam koridor yang ditargetkan mampu menciptakan kekebalan kelompok dalam waktu 12 bulan hingga 15 bulan.

"Saya pikir suplai vaksin sampai 80 persen masih aman," ucap Honesti. 

Honesti menilai tantangan terbesar saat ini justru berada pada proses pelaksanaan vaksinasi yang meliputi kecepatan dan kesiapan infrastruktur vaksinasi di tingkat provinsi, kabupaten, dan kotamadya. 

Demi mempercepat proses vaksinasi, kata Honesti, Kementerian Kesehatan saat ini telah mengizinkan Bio Farma melakukan distribusi hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Sebelumnya, induk holding BUMN farmasi ini hanya melakukan distribusi ke tingkat provinsi. Sementara distribusi ke kabupaten dan kota dikelola dinas kesehatan  daerah.

"Kita langsung koordinasi dengan distributor swasta untuk berpartisipasi karena kami tidak mungkin sanggup sendirian," ungkap Honesti. 

Honesti mencatat ada tujuh distributor yang sudah bekerja sama dengan Bio Farma dalam mendistribusikan vaksin ke kabupaten dan kota. Honesti mengatakan Bio Farma melakukan proses seleksi ketat yang hanya bekerja sama dengan distributor yang sudah memiliki sertifikasi CPOB, memiliki

rekam jejak dalam distribusi vaksin, memiliki manajemen cold chain.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement