Jumat 30 Oct 2020 09:25 WIB

Pupuk Indonesia Majukan Sektor Pertanian Lewat Agro-Solution

Ini untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Gita Amanda
Ilustrasi penanaman benih pertanian. PT Pupuk Indonesia (Persero) fokus mengembangkan inovasi program Agro-Solution guna memajukan sektor pertanian Indonesia menuju era pertanian modern dan berkelanjutan.
Ilustrasi penanaman benih pertanian. PT Pupuk Indonesia (Persero) fokus mengembangkan inovasi program Agro-Solution guna memajukan sektor pertanian Indonesia menuju era pertanian modern dan berkelanjutan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pupuk Indonesia (Persero) fokus mengembangkan inovasi program Agro-Solution guna memajukan sektor pertanian Indonesia menuju era pertanian modern dan berkelanjutan. Kepala Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia Wijaya Laksana mengatakan hal ini sekaligus untuk membantu pemerintah mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Wijaya menjelaskan, lewat program Agro-Solution yang dijalankan PT Pupuk Kaltim, petani mendapatkan pendampingan intensif tentang budidaya pertanian berkelanjutan serta melibatkan rantai pasok dan didukung teknologi. Sebagaimana yang pernah disampaikan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Bakir Pasaman bahwa program ini dilakukan dengan berbasiskan triple bottom-line atau 3P (People, Planet, Profit) yang tersematkan dalam enam langkah penting implementasi Agro-Solution.

Pertama, pengelolaan tanah dan tanaman yang produktif dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Kedua, pendampingan yang intensif. Ketiga, pola budidaya pertanian presisi berbasis teknologi digital (digital farming), yang didukung dengan penggunaan alat dan mesin untuk meningkatkan produktivitas lahan secara kualitas maupun kuantitas. Keempat, akses permodalan dan perlindungan risiko berupa asuransi pertanian bagi petani. Kelima, pengembangan sosial masyarakat petani dan bisnis inklusif. Terakhir, menciptakan kemitraan pertanian pasar (Farm To Market Partnership) guna meningkatkan ketersediaan pangan sesuai kebutuhan pasar, meningkatkan nilai tambah hasil panen, ketersediaan jaringan distribusi serta ketersediaan off taker.

"Enam poin tersebut menjadi siklus berkelanjutan yang tidak hanya menguntungkan petani, namun juga seluruh pihak yang menjadi bagian dari rantai pasok," ujar Wijaya dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (30/10).

Wijaya menyebut program ini secara perlahan telah berhasil diimplementasikan di beberapa daerah. Saat ini, Pupuk Kaltim tengah mengawal keberhasilan Agro-Solution di Jember dan Banyuwangi.

Di Jember, dia katakan, program ini diterapkan di atas lahan 40 hektar dan melibatkan 28 petani. Pupuk Kaltim ambil porsi sebagai Koordinator Kemitraan, memberikan pendampingan untuk digital farming, serta pendampingan penyediaan pupuk non-subsidi. Dalam hal permodalan, para petani memperoleh akses dari Bank BNI, dan layanan asuransi pertanian dari Asuransi Jasindo. Selain itu, petani pun mendapatkan pendampingan dari Pemda Jember untuk akses perizinan dan penyuluhan. Terakhir, ada perusahaan swasta dan koperasi yang bertindak sebagai off taker hasil panen.

Sementara itu, di Banyuwangi program Agro-Solution diterapkan di atas lahan 14 hektar bersama 8 orang petani. Layaknya di Jember, para petani mendapatkan pendampingan dari Pemda Banyuwangi dan PT Pupuk Kaltim, termasuk juga untuk penyediaan pupuk. Kerja sama dengan swasta pun dilakukan untuk memberikan layanan akses modal, asuransi, benih dan pestisida serta off taker atas hasil panen.

Wijaya mengatakan petani-petani tersebut mendapatkan pembinaan dan kawalan teknis, serta pasokan pupuk nonsubsidi yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. "Mereka juga diberi kawalan untuk mendapatkan bantuan permodalan KUR dari perbankan, serta memperoleh asuransi pertanian," ungkap Wijaya.

Wijaya menyampaikan program ini juga dimanfaatkan untuk uji coba teknologi i-Farm, yaitu aplikasi yang dikembangkan Pupuk Kaltim guna memantau aktivitas dan kemajuan para petani binaan di daerah tersebut.

"Tentunya juga kami bersinergi dengan pemerintah daerah dan petugas PPL untuk membina petani, termasuk juga pihak swasta," lanjut Wijaya.

Wijaya menambahkan, berkat program Agro Solution ini produktivitas pertanian terbukti meningkat di atas rata-rata. Di Jember, hasil panen meningkat 52,9 persen dari semula 7 ton per hektare menjadi 10,7 ton per hektare. Dari segi pendapatan, naik 69,6 persen dari biasanya 21.625.000 per hektare menjadi 36.675.000 per hektare. Begitu pun di Banyuwangi, hasil panen melonjak 76 persen dari semula 5 ton per hektare menjadi 8,8 ton per hektar.

"Pendapatan naik 107,7 persen dari semula 13.050.000 per hektar menjadi 27.106.000 per hektare," ucap Wijaya.

Sampai kuartal IV 2020, ucap Wijaya, luasan lahan Agro-Solution telah mencapai 1.256,18 hektar yang tersebar disejumlah daerah, seperti Bima, Dompu, Madiun, Magetan, Tulungagung, Tuban, Bojonegoro, Bone, Janeponto, Sidrap, Minahasa, Bolmong, Tomohon, Boalemo, Gorontalo, Banyuwangi dan Jember.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement