Ahad 07 Jun 2020 06:33 WIB

Penggunaan Energi Beralih ke Pemakaian Rumah Tangga

Permintaan akan energi terbarukan justru diproyeksikan meningkat karena keandalannya.

Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid Warga membersihkan panel surya di Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin ( E Mas Bayu), Kampug Laut, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (24/10).Permintaan akan energi terbarukan justru diproyeksikan meningkat karena keandalannya di sisi keberlanjutan pasokan.
Foto: Tahta Aidilla/Republika
Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid Warga membersihkan panel surya di Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin ( E Mas Bayu), Kampug Laut, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (24/10).Permintaan akan energi terbarukan justru diproyeksikan meningkat karena keandalannya di sisi keberlanjutan pasokan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, pendiri Clean Indonesia Channel, Dicky Edwin Hindarto, yang juga pakar efisiensi energi dan pasar karbon, mengatakan kebijakan normal baru akan mengalihkan fokus penggunaan energi ke kegiatan rumah tangga. Ia menilai ada kecenderungan pemakaian emergi yang lebih boros.

"Penggunaan energi untuk perkantoran, sekolah, jalan raya, dan industri, sekarang berpindah ke rumah tangga sehingga ada kecenderungan pemakaian energi akan lebih boros," katanya kepada Antara di Jakarta, Sabtu (6/6).

Baca Juga

Ia menambahkan di berbagai negara terjadi penurunan konsumsi energi secara drastis karena adanya lockdown dan pembatasan kegiatan ekonomi. Permintaan minyak dunia bisa berkurang 9 persen seperti kembali pada tahu 2012 karena berkurangnya konsumsi BBM untuk transportasi dan industri.

Sementara itu, permintaan batu bara diproyeksikan turun 8 persen karena penurunan kebutuhan listrik. "Untuk permintaan akan gas juga diproyeksikan akan turun lebih dalam setelah kuartal pertama 2020," jelasnya.

Begitu pula permintaan terhadap energi nuklir akan turun karena turunnya kebutuhan listrik. Namun, permintaan akan energi terbarukan justru diproyeksikan meningkat karena keandalannya di sisi keberlanjutan pasokan.

Menurut Dicky, selama ini kampanye hemat energi banyak dilakukan oleh pemerintah maupun swasta dan NGO. Kebanyakan kegiatan komunikasi tersebut sebelum masa pandemi Covid-19 dilakukan tanpa strategi komunikasi yang baik dan berkelanjutan.

Sementara itu, di masa pandemi sangat sedikit kegiatan kampanye hemat energi. Sementara itu, pendiri Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) Emilia Bassar dalam kesempatan yang sama saat diskuai mengatakan terjadinya pandemi Covid-19 memberikan tantangan baru bagi banyak pihak dan sektor dalam penanganan perubahan iklim di Indonesia.

"Kami khususnya CPROCOM terus menyuarakan komunikasi transformasional untuk menggerakkan seluruh elemen masyarakat bertindak menjaga kondisi alam di era normal baru yang kondisinya lebih baik dari masa sebelum terjadinya wabah Covid-19," kata Emilia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement