Kamis 09 Apr 2020 19:42 WIB

500 Juta Penduduk Dunia Bisa Jatuh Miskin Akibat Covid-19

Sekitar 40 persen dari orang miskin baru dapat terkonsentrasi di Asia Timur Pasifik

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya
Orang miskin. ilustrasi
Foto: wordpress
Orang miskin. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Dampak ekonomi dari virus corona Covid-19 dapat meningkatkan kemiskinan global. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang biaya finansial dan dampak dari pandemi Covid terhadap manusia, bahwa setengah miliar populasi penduduk dunia akan jatuh miskin.

Menurut laporan tersebut, dilansir di BBC, Kamis (9/4), ini akan menjadi pertama kalinya angka kemiskinan meningkat secara global dalam 30 tahun. Hasil studi yang dilakukan PBB ini diumumkan  menjelang pertemuan kunci Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan menteri keuangan G20 pada pekan depan.

Baca Juga

Laporan studi PBB INI ditulis oleh para ahli dari King's College London dan Australian National University (ANU). "Krisis ekonomi berpotensi menjadi lebih parah daripada krisis kesehatan," kata Christopher Hoy dari ANU.

Laporan tersebut, yang memperkirakan peningkatan 400-600 juta jumlah orang dalam kemiskinan di seluruh dunia, mengatakan dampak potensial dari virus tersebut merupakan tantangan nyata bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB untuk mengakhiri kemiskinan pada tahun 2030.

"Temuan kami menunjukkan pentingnya perluasan program jaring pengaman sosial di negara berkembang sesegera mungkin dan lebih luas, perhatian yang lebih besar terhadap dampak Covid-19 di negara-negara berkembang dan apa yang dapat dilakukan masyarakat internasional untuk membantu," kata  Profesor Andy Sumner dari King's College London.

Pada saat pandemi ini selesai, setengah populasi dunia yang berjumlah 7,8 miliar orang bisa hidup dalam kemiskinan. Sekitar 40 persen dari orang miskin baru dapat terkonsentrasi di Asia Timur dan Pasifik, dengan sekitar sepertiga di Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan.

Awal pekan ini, lebih dari 100 organisasi global menyerukan agar pembayaran utang ditiadakan tahun ini untuk negara-negara berkembang, yang akan membebaskan 25 miliar dolar AS dalam bentuk tunai untuk mendukung ekonomi mereka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement