Sabtu 26 Oct 2019 14:36 WIB

Pegadaian Bidik Bisnis Mikro Pinjaman di Bawah Rp 25 Juta

Produk-produk pinjaman mikro akan dikeluarkan Pegadaian lewat aplikasi dan website.

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Kantor Pegadaian. ilustrasi
Foto: Republika/ Wihdan
Kantor Pegadaian. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Peningkatan sumber daya manusia (SDM) memegang peranan penting dalam peralihan menuju era digitalisasi. Setidaknya peran human resources departement (HRD) di perusahaan harus menjadi yang terdepan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia guna menghadapi tantangan dari industri digitalisasi.

Penerapan digitalisasi bisa dipandang sebagai peluang. Semisal yang dilakukan dua perusahaan yakni PT Pegadaian dan Sinar Mas.

Baca Juga

Direktur SDM dan Hukum Pegadaian Moh Edi Isdwiarto mengatakan perseroan akan mengeluarkan produk-produk secara digital. Produk-produk akan dikeluarkan lewat aplikasi dan website.

“Kami akan masuk ke bisnis mikro untuk pinjaman Rp 25 juta ke bawah. Kami akan masuk ke digitall lending. Ini merupakan cara kami menghadapi atau memanfaatkan digitalisasi,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (26/10).

Pada era digitalisasi ini, lahirnya inovasi-inovasi terbaru berbasis teknologi semakin tak terbendung, tak terkecuali dalam bidang keuangan atau yang biasa disebut financial technology (fintech).

Sinar Mas mampu melihat peluang tersebut dengan memanfaatkan era digitalisasi dengan berinovasi membangun fintech Finmad (PT Oriente Mas Sejahtera), gabungan dari perusahaan multi nasional Oriente.

“Finmas adalah perusahaan fintech yang fokus peada kaum menengah ke bawah dan milenial. Tahun ini Finmas memokuskan peningkatan literasi keuangan di seluruh Indonesia,” kata Head of PR Finmas Rainer Emanuel.

Menurutnya geliat sektor fintech di Indonesia telah merambah ke berbagai sektor, seperti startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), uang elektronik dan lain-lain.

"Era digital telah menggiring masyarakat kepada berbagai hal yang praktis dan tanpa batas. Semua transaksi keuangan dilakukan melalui gadget seperti melakukan transfer dana, berinvestasi, hingga memperoleh pembiayaan," ucapnya.

Fintech di Indonesia tercatat tumbuh signifikan hingga pertengahan tahun ini. Dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Juli 2019, perusahaan fintech yang sudah terdaftar atau berizin mencapai 127 dan 8 di antaranya merupakan fintech syariah. Sebanyak 88 perusahaan didanai perusahaan dalam negeri dan 39 didanai pihak asing.

Jumlah akumulasi rekening leader mencapai 518.640 entitas atau meningkat 149,94 persen secara year to date (ytd). Sedangkan rekening borrower tercatat mencapai 11.415.849 entitas meningkat 161,86 persen (ytd).

Akumulasi jumlah outstanding pinjaman mencapai Rp 7, 83 triliun, meningkat 73,11 persen (ytd).

Sementara Vice Chairman Korn Ferry Hay Group Indonesia Sylvano Damanik mengatakan jika Indonesia tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi masalah ini, akan terdampak kepada 18 juta pekerja atau 442,6 miliar dolar AS di Indonesia pada 2030.

“Ini hampir semua terjadi di seluruh negara,” ujarnya.

CEO Happy Doni Priliandi mengatakan kesalahan transformasi digital, bukan karena  digital, tapi transformasi perilaku. Ini peran pemimpin atau CEO sangat diperlukan di perusahaannya, bukan hanya peran human resources.

“Jadi kegagalan transformasi digital bukan karena digitalnya, tetapi orang-orangnya yang tidak bisa beradaptasi,” terangnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement