Ahad 08 Sep 2019 09:21 WIB

Gaji ASN Kalah Besar, Atlet E-Sport Raup Ratusan Juta Tiap Bulan

E-sport pun kini dinilai sebagai lahan basah nan prospektif

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id
Gaji ASN Kalah Besar, Atlet E-Sport Raup Ratusan Juta Tiap Bulan. (FOTO: Tanayastri Dini Isna)
Gaji ASN Kalah Besar, Atlet E-Sport Raup Ratusan Juta Tiap Bulan. (FOTO: Tanayastri Dini Isna)

Warta Ekonomi.co.id, Surakarta --- Jumlah peminat yang semakin tinggi mendorong perkembangan industri olahraga-el (e-sport) di tanah air, juga kehadiran berbagai gim yang berbasis di seluler. Di sisi lain, sejumlah instansi pendidikan juga mulai menerima kegiatan itu sebagai kegiatan positif.

Seiring itu, dari sisi bisnis, e-sport pun kini dinilai sebagai lahan basah nan prospektif oleh banyak investor. Hal ini pun mendorong pertumbuhan bisnis di beberapa sektor terkait.

"Berbicara mengenai bisnisnya, e-sport ini sangat luas, melingkupi media, event organizer, dan team e-sports baik untuk mobile games dan PC games. Beberapa tipe bisnis mengambil keuntungan di sektor ini, terutama bagi event organizer, ini dianggap lahan basah. Bahkan para EO dari Filipina dan China turut datang ke sini," ujar founder sekaligus CEO GGWP.id Ricky Pratama.

Baca Juga: 2020, Indonesia Punya Gim Pahlawan Garapan Developer Lokal

Dengan berkembangnya bisnis ini, sambung Ricky, tim e-sport yang sebelumnya adalah atlet-atlet tak berbayar, sekarang gajinya bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan. Mereka aktif di game mobile seperti Arena Of Valor (AOV), PlayerUnknown's BattleGrounds (PUBG Mobile), Mobile Legends, dan Free Fire.

"Bisa dilihat juga, banyak stakeholder yang seketika berminat untuk terjun ke ranah e-sports. Dengan investasi di e-sports, mereka dan brand/produk dengan mudah menjangkau pangsa pasarnya, yaitu anak muda di Indonesia lewat hal yang mereka sukai," ujar pakar e-sport Andrew Tobias.

Ricky menambahkan bahwa e-sport di Indonesia berhasil menarik banyak investor dilihat dari pangsa pasar dan juga peminatnya dari kalangan gen-Z dan milenial, terlebih investor asing. "Investor kita di e-sports kebanyakan berasal dari China. Bisa dilihat juga kiblat e-sport kita mirip dengan China, yang didominasi oleh mobile games," ujarnya.

Baca Juga: Bukan Hanya Perusahaan Game, Ini Gurita Bisnis Milik Tencent

Menurut Ricky, saat ini dukungan pemerintah Indonesia ke e-sport melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Pemuda dan Olah Raga cukup memadai. Dalam hal ini, kata dia, pemerintah juga menargetkan supaya Indonesia bisa menciptakan game e-Sport-nya sendiri

"Sejauh ini kita selalu mengikuti game yang dipertandingkan, bukan game ciptaan anak bangsa sendiri. Inilah yang dikejar oleh pemerintah. Pemerintah ingin supaya Indonesia bisa berkarya di pengembangan game-game di e-sports itu," jelasnya.

Terkait dengan itu, Ricky menuturkan bahwa Bekraf sudah mengadakan event yaitu Bekraf Game Prime 2019 pada Juli lalu. Namun, game yang ada di event itu masih berasal dari luar negeri. Bekraf dan para pemangku kepentingan e-sport Indonesia menurutnya menargetkan bahwa di event Game Prime 2020 nanti sudah ada game-game lokal yang dimunculkan.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement