Sabtu 24 Aug 2019 07:15 WIB

Xiaomi Mulai Tawarkan Kredit dan Layanan Pembayaran

Produsen elektronik China, Xiaomi, siap meluncurkan bisnis pinjaman konsumen

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id
Pimpin Pasar India, Xiaomi Mulai Tawarkan Kredit dan Layanan Pembayaran. (FOTO: KrAsia)
Pimpin Pasar India, Xiaomi Mulai Tawarkan Kredit dan Layanan Pembayaran. (FOTO: KrAsia)

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Produsen elektronik China, Xiaomi siap meluncurkan bisnis pinjaman konsumen di India dalam beberapa minggu ke depan, menurut laporan Reuters (23/8/2019).

Perusahaan itu dikabarkan bekerja sama dengan baik di India melalui aplikasi pembayaran bernama Mi Pay yang meluncur Maret lalu, menurut narasumber yang tak mau identitasnya disebutkan kepada Reuters.

"Mereka tampaknya mengikuti (langkah) pemimpin pasar, yakni Apple dan Google, di mana smartphone pada akhirnya akan berperan lebih dari telepon, tetapi juga untuk kebutuhan finansial," katanya.

Baca Juga: Bisnis Internasional Melejit, Begini Kunci Keberhasilan Xiaomi

Layanan Mi Credit terbaru Xiaomi di India menawarkan pinjaman hingga 100.000 rupee (US$1.451) dengan suku bunga mulai 1,8%, dijadwalkan untuk debut dalam beberapa minggu mendatang.

Meski menolak memberitahukan informasi mendetail, juru bicara Xiaomi mengungkapkan, "Mi Credit beroperasi dalam fase beta."

India adalah pasar terbesar Xiaomi di luar China. Di negara itu, perusahaan memasarkan sekitar 70 juta perangkat telepon di sana, menurut lembaga riset pasar, Counterpoint.

Pendapatan fintech Xiaomi naik 62,7% yoy menjadi 112 juta (RMB792 juta) pada kuartal kedua dengan fokus pada pinjaman konsumen dan pembiayaan rantai pasokan.

Xiaomi optimis pihaknya dapat memanfaatkan posisi nomor satu di pasar ponsel pintar India untuk memanfaatkan sektor layanan keuangan guna mendapatkan keuntungan.

Baca Juga: Masuk Daftar Perusahaan Bergengsi, Bos Xiaomi 'Jemawa'

Namun, kekhawatiran publik yang meningkat atas privasi data telah memaksa raksasa teknologi seperti Google (GOOGL.O) dan Facebook (FB.O) untuk mengubah cara mereka melakukan bisnis, bisa menjadi tantangan bagi perusahaan China itu.

Di Indonesia, pasar utama lain Xiaomi, unit keuangannya harus ditutup pada akhir 2018 karena adanya ketidaksepakatan dengan regulator mengenai perizinan.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement