Senin 19 Aug 2019 06:03 WIB

Indonesia, Pasar yang Menarik Bagi Investasi E-Sport

E-sport kebanyakan berada pada ranah gadget seperti smartphone.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Nidia Zuraya
Warga bermain game Player Unknown's Battle Grounds (PUBG) melalui telepon pintar di Lhokseumawe, Aceh, Rabu (19/6/2019).
Foto: Antara/Rahmad
Warga bermain game Player Unknown's Battle Grounds (PUBG) melalui telepon pintar di Lhokseumawe, Aceh, Rabu (19/6/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Asosiasi Olahraga Video Games Indonesia (AVGI) Angki Trijaka mengatakan perkembangan e-sport di Indonesia sangat luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Angki menilai Indonesiaa memiliki potensi besar dalam pasar e-sport.

Potensi ini, menurutnya, tidak terlepas dari jumlah penduduk Indonesia yang sekira 260 juta jiwa dan mayoritas memiliki smartphone. E-sport kebanyakan berada pada ranah gadget seperti smartphone.

Baca Juga

"Populasi penduduk Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi investor dalam bidang games mengingat pengguna gadget di Indonesia tinggi sekali," ujar Angki di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Angki menyebut, investasi games di Indonesia pada 2017 mencapai 100 juta dolar AS. Angki mengatakan perkembangan e-sport di Indonesia tak lepas dari peran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang gencar membangun infrastruktur guna menopang pertumbuhan e-sport di dalam negeri.

"Pembangunan Palapa Ring atau yang disebug tol langit menghubungkan konektivitas tanpa sekat dan jarak. Palapa Ring tengah, barat, dan timur sudah semua. Indonesia timur sudah dapat internet kecepatan tinggi," lanjut Angki.

Tantangan saat ini, kata Angki, memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa e-sport merupakan sebuah profesi yang menjanjikan. Angki menilai stigma bermain games kerap dipandang negatif oleh masyarakat Indonesia.

Padahal, kata Angki, setiap pelaku e-sport sejatinya tak hanya bisa terjun menjadi atlet e-sport, melainkan juga menjadi youtuber, analis, hingga pelatih. "E-sport berbeda dengan casual gamer (orang yang sekadar bermain games). Kalau e-sport seperti atlet. Ada salah satu atlet bahkan yang punya Ferrari dalam waktu kurang satu tahun," kata Angki menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement