Jumat 09 Aug 2019 10:51 WIB

Pertamina Kebut Pengeboran Sumur Baru untuk Tutup Kebocoran

Pengeboran sumur baru itu sudah mencapai 624 meter, dari target 2.765 meter.

Pekerja Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) memantau sekaligus mengawal warga yang membantu membersihkan ceceran tumpahan minyak di sepanjang Pantai Sedari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/8/2019).
Foto: Antara/Humas Pertamina
Pekerja Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) memantau sekaligus mengawal warga yang membantu membersihkan ceceran tumpahan minyak di sepanjang Pantai Sedari, Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/8/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- PT Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ), berhasil memercepat pengeboran sumur baru relief well (RW) YYA-1RW, yang berfungsi menutup sumur YYA-1. Saat ini, pengeboran sumur baru itu sudah mencapai 624 meter, dari target 2.765 meter. 

Vice President Relations PT PHE ONWJ,  Ifki Sukarya, mengatakan, hingga saat ini, pihaknya terus mengebut pengeboran sumur baru ini. Dengan adanya sumur baru ini, maka sumur lama YYA-1 yang mengalami kebocoran, bisa terkontrol. Dengan begitu, sumur lama ini bisa segera tertutup. 

 

"Kami akan mengontrol  sumur YYA-1 melalui sumur baru YYA-1RW ini. Sehingga, nanti bisa secepatnya menutup sumur agar tidak lagi menumpahkan minyak," ujar Ifki, Jumat (9/8).

 

Menurut Ifki, sumur baru ini dibor secara miring menuju lokasi lubang sumur YYA-1. Pengeboran ini, mencapai titik kedalaman tanah tertentu untuk menutup sumur YYA-1. Adapun, proses pengeboran sumur baru itu telah dimulai sejak Kamis (1/8) pukul 14.00 WIB atau dua hari lebih cepat dari jadwal semula.

 

Pengeboran sumur relief well YYA-1RW, merupakan upaya PHE ONWJ untuk menghentikan gelembung gas di sumur YYA-1. Tentunya, pengeboran ini setelah selama sepekan terakhir melakukan survei untuk menentukan titik sumur dan penempatan menara bor (rig).

 

Adapun, pemilihan lokasi pengeboran sumur baru itu telah melalui kajian keamanan dari tiga aspek, yakni HSSE, subsurface, dan seabed survey. PHE ONWJ sendiri, memakai perusahaan well control kelas dunia untuk mematikan sumur YYA-1 itu yakni Boots & Coots. 

 

"Perusahaan asal AS itu, berpengalaman dan telah terbukti menghentikan insiden serupa sumur YYA-1, dengan skala jauh lebih besar yakni saat kasus kebocoran migas di Teluk Meksiko," ujarnya.

 

Setelah sumur baru YYA-1RW mencapai titik kedalaman sumur YYA-1 yang ditentukan, maka akan dipompakan lumpur berat dari sumur baru untuk mematikan sumur YYA-1. Nanti, setelah sumur YYA-1 dinyatakan mati akan dilakukan monitoring selama 24 jam penuh sebelum dilanjutkan ke proses plug and abandon atau penutupan sumur secara permanen.

 

PHE ONWJ, terus berupaya menahan tumpahan minyak sumur YYA-1 agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas. Dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan serta mengejar, melokalisasi, dan menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan YYA-1. 

 

Selain penanganan kontrol sumur, PHE ONWJ juga melakukan penanganan oil spill di offshore dan onshore. Di offshore penanganan dilakukan dengan menggunakan 4.200 meter static oil boom  di layer pertama dan 400 meter static oil boom di layer kedua. Tujuannya, untuk mengejar minyak yang lolos IMT juga memasang moveable oil boom seluas 700 meter.

 

"Sebagai langkah antisipasi IMT, kita juga memasang satu set oil boom sepanjang 400 meter di sekitar FSRU Nusantara Regas, empat skimmer dan 44 kapal," ujarnya.

 

Sedangkan di onshore, pihaknya menggunakan 2.670 meter oil boom di muara sungai dan pembersihan bersama dengan masyarakat dan pihak terkait. Adapun, pembersihan spill oil sampai saat ini masih berlangsung. Baik di perairan dan juga pesisir pantai.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement