REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah menguat 46 poin ke level Rp16.722 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026). Penguatan rupiah terjadi seiring respons positif pasar terhadap kelanjutan kebijakan stimulus fiskal pemerintah pada 2026.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespons positif pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memastikan empat program stimulus 2025 berlanjut pada 2026.
Program tersebut mencakup PPh Final UMKM 0,5 persen hingga 2029, PPh 21 ditanggung pemerintah untuk sektor pariwisata dan industri padat karya, serta diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian bagi peserta bukan penerima upah.
“Pasar merespons positif keberlanjutan stimulus fiskal karena memberikan kepastian bagi dunia usaha dan daya beli masyarakat,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
Di tengah tekanan harga komoditas dan ketidakpastian global, Ibrahim menilai APBN tetap berperan sebagai peredam guncangan. Sepanjang 2025, realisasi belanja negara tercatat Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu APBN, sementara pendapatan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target.
Defisit anggaran hingga akhir 2025 tercatat Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap PDB. Anggaran tersebut digunakan untuk membiayai berbagai program prioritas, termasuk Makanan Bergizi Gratis, pembinaan Koperasi Desa, serta paket stimulus untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi.
Dari pasar obligasi, kinerja Surat Berharga Negara menunjukkan perbaikan. Yield SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,41 persen, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2024 yang berada di atas 7 persen. Menurut Ibrahim, penurunan yield mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap tata kelola fiskal Indonesia.
Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen global, termasuk ketegangan perdagangan internasional, dinamika geopolitik, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Retorika tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai membebani dolar AS, sementara ketidakpastian geopolitik mendorong aliran dana ke aset lindung nilai.
Pasar kini menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan Kamis (29/1/2026) dini hari waktu Indonesia. Konsensus pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen.
Untuk perdagangan Kamis (29/1/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif dengan potensi ditutup menguat di kisaran Rp16.670 hingga Rp16.730 per dolar AS.