Selasa 27 Jan 2026 15:06 WIB

Pertamina Mulai Fabrikasi Pengembangan Lapangan Bambu Merah, Target Onstream November 2026

Pengembangan lapangan Bambu Merah perkuat ketahanan energi nasional

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Intan Pratiwi
Kunjungan Komisaris PT Pertamina (Persero) ke RIG PDSI#15.3 pada 25 Agustus 2025.
Foto: Dok Republika
Kunjungan Komisaris PT Pertamina (Persero) ke RIG PDSI#15.3 pada 25 Agustus 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, CIKARANG — PT Pertamina EP bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) resmi memulai tahap fabrikasi Proyek Pengembangan Lapangan Bambu Merah (BMH) yang terintegrasi dengan Stasiun Pengumpul Cilamaya Utara (SP CLU). Tahap awal ini ditandai dengan pelaksanaan first cutting ceremony di Workshop Fabricator, Cikarang, Jawa Barat.

Manager Project Pertamina EP Zona 7 Ahmad Firdaus Fasa menilai dimulainya tahap fabrikasi menjadi tonggak penting dalam pengembangan Lapangan Bambu Merah. “Kami berkomitmen melaksanakan seluruh pekerjaan dengan mengutamakan keselamatan, kualitas, dan kepatuhan terhadap regulasi,” kata Ahmad, Selasa (27/1/2026).

Kegiatan first cut of steel menandai dimulainya pekerjaan fabrikasi unit dehidrasi gas (Dehydration Unit/DHU) dan gas scrubber. Kedua fasilitas tersebut berperan penting dalam peningkatan kapasitas pemrosesan gas dari struktur Bambu Merah.

Pengembangan Lapangan Bambu Merah dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas yang telah tersedia di SP CLU. Produksi minyak dari lapangan ini akan dialirkan menuju Booster Station (BS) Cilamaya, sedangkan gas diproses agar memenuhi spesifikasi jual sebelum dikirim ke Stasiun Kompresor Gas (SKG) Cilamaya dan digabungkan dengan produksi gas dari lapangan lain.

Untuk menjaga aspek lingkungan, air hasil produksi dari lapangan akan diinjeksikan kembali ke sumur-sumur injeksi melalui Water Injection Plant (WIP) di SP CLU. Skema ini menjadi bagian dari pengelolaan operasi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP Zona 7 Wazirul Luthfi menyebut pengembangan fasilitas produksi di Cilamaya Utara memiliki nilai strategis bagi ketahanan energi nasional. “Pengembangan fasilitas produksi di Cilamaya Utara merupakan wujud komitmen Pertamina EP Zona 7 untuk mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional secara berkelanjutan,” ujar Wazirul.

Secara keseluruhan, pengembangan struktur Bambu Merah diproyeksikan menghasilkan produksi puncak sekitar 8 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas dan 300 barel fluida per hari (BLPD) minyak atau setara 292,5 barel minyak per hari (BOPD) secara net. Kapasitas tersebut diharapkan memperkuat kontribusi produksi migas di wilayah Jawa Barat.

Fasilitas yang dibangun meliputi gas scrubber berkapasitas 8 MMSCFD, Dehydration Unit (DHU) berkapasitas 9 MMSCFD, penambahan tiga unit gas compressor masing-masing berkapasitas 0,5 MMSCFD, serta fasilitas pendukung lainnya. Pekerjaan fabrikasi dilaksanakan oleh PT Bahana Karya Mandiri dengan durasi 280 hari kalender mulai 5 Desember 2025.

Setelah tahap fabrikasi rampung, paket DHU akan dikirim ke SP CLU pada pertengahan September 2026 untuk dilanjutkan dengan konstruksi dan commissioning selama sekitar dua bulan. Pertamina EP Zona 7 menargetkan fasilitas produksi Lapangan Bambu Merah dapat mulai beroperasi (onstream) pada November 2026.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement