Senin 06 May 2019 19:10 WIB

BI: Pelemahan Rupiah karena Faktor Global

Penguatan dolar AS berimbas masif terhadap mata uang sejumlah negara, termasuk rupiah

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang. ilustrasi
Foto: Republika/Prayogi
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan rupiah dalam beberapa pekan ke belakang disebabkan oleh faktor global. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah mengatakan dinamika global terus bergerak dan dolar AS menguat di hampir semua lini.

"Dolar secara global menguat karena pernyataan Jerome Powell yang memberi sinyal bahwa The Fed tidak akan menaikkan atau menurunkan suku bunganya," kata Nanang di Kompleks BI, Jakarta, Senin (6/5).

Baca Juga

Padahal, kata dia, sebelumnya pasar menduga suku bunga The Fed akan turun. Sehingga ada perbedaan asumsi yang mengarah pada penentuan kebijakan kedepan.

Nanang menyampaikan penguatan dolar AS memang berimbas masif di sejumlah negara. Seperti pada Cina yang nilai tukar yuannya cukup merosot. Hal ini menyebabkan nilai indeks harga saham di Cina turun hingga lima persen.

Meski demikian, Nanang mengatakan pergerakan nilai tukar mata uang karena faktor pernyataan atau statement biasanya tidak akan berlangsung permanen. Jika melihat faktor internal AS, seperti inflasi yang masih jauh dari ekspektasi dua persen, maka masih ada harapan untuk normalisasi.

"Kalau dilihat tadi malam, dolar di Asia itu melemah," kata Nanang.

Ia percaya dinamika karena faktor pernyataan bersifat pendek karena statement bisa berubah dalam waktu singkat. Nanang mengatakan BI memantau perkembangan pasar global dan meresponsnya jika berpotensi mengganggu kestabilan.

"Memang mempengaruhi ada penyesuaian posisi porftofolio asing di Indonesia, ada penjualan oleh asing maka kita (BI) masuk ke pasar SBN, sehingga sumber terjadinya outflow bisa terjaga," kata dia.

Selain itu, Nanang melihat sejumlah faktor domestik tidak terlalu mengancam pada pelemahan rupiah. Seperti pertumbuhan ekonomi yang dibawah ekspektasi pasar, ia menyebutnya dinamika jangka pendek dan fluktuasi yang biasa terjadi.

Selain itu ada pola musiman seperti permintaan valuta asing yang biasanya meningkat pada kuartal II karena repatriasi dan impor. Namun ia prediksi pada kuartal III seharusnya permintaan valas akan kembali turun.

"Ini adalah siklus musiman yang memang selalu kita hadapi," katanya.

Pada hari ini, Senin (6/5), rupiah terpantau melemah hingga ke level Rp 14.308 per dolar AS. Pada akhir pekan lalu 3 Mei 2019, rupiah berada di level Rp 14.282. Pelemahan terjadi sejak 22 April di level Rp 14.056 per dolar AS yang tak kunjung turun lagi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement