Rabu 06 Feb 2019 14:30 WIB

Harga Tiket Mahal dan Bagasi Berbayar Turunkan Wisata Lombok

Harga tiket dan penerapan bagasi berbayar saat low season pengaruhi kunjungan.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Nur Aini
Sejumlah wisatawan asing bermain olahraga air di pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/8). Kawasan wisata Mandalika tidak terdampak oleh bencana gempa dan tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, pihak ITDC mengundang wisatawan untuk tetap berkunjung ke kawasan pariwisata Lombok
Foto: Ahmad Subaidi/Antara
Sejumlah wisatawan asing bermain olahraga air di pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/8). Kawasan wisata Mandalika tidak terdampak oleh bencana gempa dan tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, pihak ITDC mengundang wisatawan untuk tetap berkunjung ke kawasan pariwisata Lombok

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Awan Aswinabawa mengatakan tingginya harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar berdampak pada sektor pariwisata NTB, terutama Lombok.

 

Awan menilai momentum tingginya harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar tidak tepat karena terjadi pada saat low season.

 

"Berpengaruh sangat signifikan, pengaruhnya besar waktunya tidak pas karena low season yang biasanya orang sudah tidak terlalu antusias berwisata, ditambah ini (tiket dan bagasi berbayar) semakin malas orang pergi," ujar Awan kepada Republika.co.id di Mataram, NTB, Rabu (6/2).

 

Awan menyebutkan, penurunan jasa perjalanan wisata dan pemesanan tiket dari sekira 70 anggota Astindo NTB mencapai paling sedikit 40 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

 

Awan menyebutkan, aspek penerbangan menjadi komponen utama dalam sektor pariwisata Lombok, terutama dalam penyusunan paket jasa perjalanan wisata. Tingginya harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar tidak sekadar menurunkan jumlah wisatawan ke Lombok, melainkan juga berdampak pada  tingkat penjualan oleh-oleh dan kerajinan tangan yang ditawarkan para pelaku UMKM.

 

"Semua dampak berantai karena kalau pariwisata kan hajat hidup orang banyak. Sekarang ini kita (pelaku industri wisata) berusaha survive saja dulu, sekarang bisa bertahan saja sudah bagus," kata Awan.

 

Awan menyampaikan, beberapa hari terakhir relatif mulai ada peningkatan tingkat kunjungan meski belum signifikan. Hal itu didasari libur Imlek yang terlihat dari tingkat kunjungan di kawasan Pantai Senggigi dan Gili Trawangan. Awan berharap, peningkatan tersebut terus berlanjut dengan adanya bantuan kebijakan dari pemerintah terkait harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement